Rabu 22 May 2013 20:17 WIB

Jepang Buka Pintu Pulihkan Perundingan dengan Korut

Bendera Jepang
Foto: techgenie.com
Bendera Jepang

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Jepang mempertimbangkan pembicaraan langsung dengan Korea Utara, kata pemerintah pada Rabu, seiring dengan perjalanan kejutan penasehat tingkat tinggi perdana menterinya ke Pyongyang.

Terdapat peluang untuk pembicaraan dwipihak saat Tokyo berusaha mengobati sakit hati akibat penculikan warga negaranya mata-mata Korea Utara pada 1970-an dan 1980-an, yang memicu pendapat umum di dalam negeri.

Tetapi setiap langkah untuk memutuskan hubungan dengan Washington dan Seoul, yang keduanya menekankan jika dibutuhkan pendekatan bersatu untuk menggandeng Pyongyang, bisa menyinggung.

"Saat kita mencari segala kemungkinan, tentu saja hal seperti itu adalah pilihan," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga kepada wartawan ketika ditanya tentang kelanjutan pembicaraan yang ditangguhkan tahun lalu ketika Korea Utara mengumumkan peluncuran roket.

Komentar itu muncul setelah Perdana Menteri Shinzo Abe, Ahad kemarin, berjanji untuk mengupayakan pembicaraan dengan Pyongyang tentang masalah tersebut dan setelah penasihat Isao Iijima kembali dari melakukan lawatan empat hari di Korea Utara.

Iijima mengatakan kepada para pejabat Korea Utara bahwa Tokyo "tidak akan membuat gerakan apapun" kecuali mereka mengembalikan semua warga negara Jepang yang menjadi korban penculikan, menyerahkan para penculik dan menyelesaikan semua kasus-kasus penculikan, menurut media Jepang mengutip sumber yang dekat dengan Iijima.

Perjalanan itu memicu spekulasi jika Pyongyang berusaha untuk menghangatkan hubungannya dengan Tokyo pada saat hubungannya dengan Washington dan Seoul telah membeku terkait ambisi nuklir dan peluru kendali Pyongyang.

Korea Selatan menjuluki perjalanan itu "tidak membantu" upaya internasional untuk menempa persatuan melawan Pyongyang. Glyn Davies, perwakilan khusus Amerika Serikat untuk kebijakan Korea Utara, memperingatkan bahwa Pyongyang sedang berusaha untuk "memecah belah" masyarakat internasional.

Washington ingin melihat dimulainya kembali pembicaraan enam pihak, yang melibatkan Korea Utara, Korea Selatan, Amerika Serikat, Jepang, Cina dan Rusia, yang dimaksudkan untuk menghilangkan ambisi nuklir di semenanjung Korea.

Abe mengatur rencana besar dengan mencari "jala keluar terpadu" untuk masalah penculikan, bersama dengan penyelesaian ambisi nuklir dan peluru kendali Pyongyang.

Iijima adalah seorang pembantu senior Junichiro Koizumi. Ia menyertai perjalangan Koizumi ke Pyongyang pada tahun 2002 dan 2004 sebagai perdana menteri Jepang untuk melakukan pembicaraan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Il.

Dalam perjalanan Koizumi pada 2002, Korea Utara mengaku bahwa agennya menculik warga negara Jepang di masa Perang Dingin untuk melatih mata-mata Korea Utara bahasa Jepang dan adat istiadat.

Beberapa dari mereka yang diculik diizinkan untuk kembali ke Jepang bersama dengan anak-anak yang lahir di Korea Utara, namun Pyongyang mengatakan sisanya yang lain telah meninggal dunia, meskipun banyak rakyat Jepang yang tidak percaya.

sumber : Antara/ AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement