Kamis 23 May 2013 08:05 WIB

Assad Dinilai Tak Miliki Peran Dalam Masa Depan Suriah

 Bashar Assad
Foto: AP
Bashar Assad

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Kekuatan dunia Kamis pagi berikrar bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad tidak memiliki peran dalam masa depan Suriah dan berjanji untuk meningkatkan dukungan kepada oposisi sampai pemerintahan transisi terbentuk.

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan pada akhir pembicaraan lebih lima jam di Jordania, 11 negara Sahabat Suriah itu sepakat bahwa "Bashar, rezim, dan rekan-rekan dekatnya dengan darah di tangan mereka tidak bisa memainkan peran apa pun di Suriah masa depan".

"Para menteri juga menegaskan bahwa sampai saat pertemuan di Jenewa menghasilkan pemerintahan transisi, mereka akan lebih meningkatkan dukungan mereka kepada oposisi dan mengambil semua langkah-langkah lain yang diperlukan," tambah pernyataan itu.

Situasi di Suriah masih memanas akibat bentrokan-bentrokan bersenjata antara tentara rezim dan oposisi bersenjata yang Bashar sebut sebagai "pemberontak dan teroris", yang mendapat bantuan asing.

 

Perdana Menteri Suriah Wael al-Halqi, Selasa memuji prestasi besar militer dan menekankan kemenangan sudah dekat, kata kantor berita resmi Suriah, SANA.

 

Pernyataan al-Halqi dikeluarkan dalam pertemuan rutin Kabinet Suriah, ketika pasukan Damaskus masih bergerak maju dalam pertempuran menentukan guna mengusir gerilyawan dari Kota Kecil Al-Qussair di bagian tengah negeri tersebut di dekat perbatasan Lebanon.

 

Saat memuji kemenangan militer, al-Halqi mengatakan kemenangan semacam itu telah secara positif melambungkan situasi dalam negeri di Suriah sejalan dengan rencana pemerintah yang bertujuan meningkatkan kondisi kehidupan warga.

 

Prajurit militer Suriah, Selasa, mendesak lebih jauh dalam operasi mereka guna merebut kembali Al-Qussair, kata media setempat.

 

SANA memberitakan satuan pasukan Suriah terus memburu "pelaku teror" di daerah selatan dan utara Al-Qussair, setelah sepenuhnya menguasai kota kecil itu, stadion, beberapa wilayah barat dan daerah di sekita pusat kebudayaan, gereja serta putaran kotapraja di daerah Al-Ghaita.

 

Militer menghancurkan banyak terowongan yang digunakan oleh gerilyawan di bagian utara dan tengah kota tersebut, menewaskan sejumlah gerilyawan dan menghancurkan peralatan serta senjata mereka, kata SANA.

 

Di antara mereka yang tewas terdapat Abu Omar, pemimpin Front An-Nusra --yang memiliki hubungan dengan Al Qaida-- di Al-Qussair, kata media setempat.

 

Abu Omar tewas bersama 10 petempurnya pada Selasa, saat prajurit militer Sruiah terus bergerak maju pada hari ketiga berturut-turut guna merebut kembali kota kecil strategis itu.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement