Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Inggris Minta Google Berantas Situs Porno

Senin 10 Jun 2013 09:41 WIB

Rep: Hannan Putra/ Red: A.Syalaby Ichsan

A Google sign is seen at a Best Buy electronics store in this photo illustration in Encinitas, California April 11, 2013. (illustration)

A Google sign is seen at a Best Buy electronics store in this photo illustration in Encinitas, California April 11, 2013. (illustration)

Foto: Reuters/Mike Blake

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pornografi dinilai semakin merajalela di dunia maya dan menjadi ancaman serius bagi anak-anak. Dengan keberadaan mesin pencari seperti Google, anak-anak pun dipermudah untuk mengunjungi situs-situs porno.

Apa yang dikhawatirkan oleh para orang tua terhadap anak-anaknya yang berselancar di dunia maya itu juga menjadi perhatian Perdana Menteri Inggris David Cameron.

Dalam pernyataannya Sabtu (8/6) kemarin, ia dengan tegas meminta penyedia layanan internet yang tergolong kepada mesin pencari untuk membersihkan diri mereka dari situs-situs berbau pornografi.

"Penyedia layanan internet dan mesin pencari itu berfungsi untuk mengelompokkan situs-situs tersebut. Saya mengharapkan ada upaya untuk menciptakan teknologi yang lebih canggih yang bisa memblokir gambar-gambar menjijikkan itu," katanya seperti dilaporkan dailymail.

Cameron mengaku, Kementerian Kebudayaan Inggris telah mengirimkan permohonan kepada perwakilan mesin-mesin pencari itu untuk menindaklanjuti secara serius ancaman pornografi tersebut.

Menteri Kebudayaan Inggris Maria Miller bahkan telah mengundang secara khusus perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google dan Facebook untuk membahas masalah tersebut pada 17 Juni mendatang.

Disamping itu, Cameron juga membacakan data-data terkait tindak kriminalitas yang awalnya dipicu oleh maraknya pornografi di internet. Ia menyayangkan maraknya kekerasan seks pada anak-anak.

Seperti yang disidangkan di dua peradilan yang mana tersangka membunuh bocah lima tahun, April Jones dan Tia Sharp yang masih berumur 12 tahun. Tersangka awalnya terobsesi setelah menonton salah satu situs pornografi anak di internet.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA