Ahad 14 Jul 2013 17:48 WIB

Menjelang Dibubarkan, Kantor Telegram India Diserbu Pelanggan

Petugas memeriksa pesan telegram dari pelanggan di kantor telegram Kashmere Gate di New Delhi, India.   (AP/Manish Swarup)
Petugas memeriksa pesan telegram dari pelanggan di kantor telegram Kashmere Gate di New Delhi, India. (AP/Manish Swarup)

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Ribuan warga India berjejal menuju kantor telegram pada Ahad (14/7) waktu setempat untuk mengirim pesan kenang-kenangan kepada rekan dan keluarga, detik-detik terakhir sebelum layanan tersebut dihentikan setelah beroperasi 162 tahun.

Hari ini (Ahad, 14/7) adalah hari terakhir pengiriman surat kawat itu diterima oleh kantor telegram, di negara besar masih menjual jasa pengiriman pesan telegram, dan kantor pusat telegram India mengatakan harus menangani permintaan membludak.

"Kami menambah jumlah petugas dengan perkiraan jumlah pelanggan yang mendatangi kami akan bertambah," kata petugas senior kantor telegram Shameem Akhbar kepada AFP, Ahad (14/7).

"Kami akan menerima permintaan telegram terakhir pada pukul 10.00 malam hari Minggu (14/7) dan mencoba mengirimkannya pada malam itu juga dan bila tersisa paling lambat pada Senin (15/7)," ungkap Akhbar.nIa menambahkan ada banyak pengirim yang memakai tulisan tangan untuk menulis pesan pada lembar yang disediakan.

Cuti para staf sudah ditangguhkan untuk menangani pengiriman pesan dengan tarip paling rendah 29 rupee atau setara dengan 50 sen dolar AS dan dikirim langsung oleh petugas yang mengendarai sepeda menuju alamat tujuan. Pada Ahad (14/7) pagi terlihat orang-orang yang sedang lari pagi, ibu rumah tangga, pelajar berada di antara ribuan pengirim pesan. Beberapa orang terlihat memakai telepon genggam untuk meminta alamat pos tujuan ke rumah teman-teman mereka guna mengirimkan pesan telegram terakhir.

"Saya belum pernah melihat pelanggan sebanyak ini. Ada beberapa orang yang mengirim 20 telegram sekali jalan," kata Ranjana Das yang bertugas mentransfer pesan tersebut melalui telegram.

"Layanan ini tidak akan ditutup jika ada banyak pelanggan seperti ini sepanjang tahun," ujar pekerja lain Vinod Rai.

Layanan yang populer di sebut sebagai "taar" atau surat kawat, akan ditutup pada Senin (15/7) karena mengalami kerugian keuangan yang banyak. "Sementara kini kita berkomunikasi dengan cara yang lebih modern, biarlah ini menjadi contoh sejarah," kata salah seorang pengirim pesan.

"Simpanlah ini sebagai sekeping sejarah ya Bu," tulis yang lain.

Pada zaman sebelum telepon genggam dan internet ada, jaringan telegram adalah cara utama komunikasi jarak jauh, antara lain tercatat 20 juta pesan dikirim dari India selama pemecahan India yang berdarah tahun 1947. "Puncaknya pada 1985 jasa pengiriman pesan milik pemerintah itu mengirimkan 600 ribu pesan dalam sehari ke seluruh India tetapi jumlah tersebut merosot jauh menjadi hanya 5.000 pesan per hari, akhir-akhir ini," kata Akhbar.

Kebanyakan pesan telegram itu dikirim oleh kantor pemerintah. "Sejak tahun 2008 kami mulai mengurangi pegawai ... sekarang lebih dari 90 persen sudah diberhentikan dan tingal 968 pegawai yang masih bekerja," ujar Akhbar.

Satu pesan terdiri atas lima kata telah dikirim oleh kantor pusat telegram itu menandakan perubahan 'Ini akhir dari suatu zaman'.

sumber : Antara/AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement