Kamis 18 Jul 2013 11:35 WIB

Turki Tak Mau Campuri Urusan Dalam Negeri Mesir

 Pengunjuk rasa memegang foto Presiden Muhammad Mursi di Nasser City, Kairo, Mesir, Kamis (4/7).    (AP/Hassan Ammar)
Pengunjuk rasa memegang foto Presiden Muhammad Mursi di Nasser City, Kairo, Mesir, Kamis (4/7). (AP/Hassan Ammar)

REPUBLIKA.CO.ID, BAKU --  Menteri Luar Negeri Turki Ahmed Davutoglu mengatakan, Turki prihatin dengan situasi belakangan ini di Mesir tapi tak mencampuri urusan dalam negeri di negara Afrika Utara tersebut.

Mesir adalah sekutu penting buat Turki, kata Davutoglu, dalam taklimat bersama dengan timpalannya dari Azerbaijan Elmar Mammadyarov. Ia menambahkan setiap perkembangan di sana memiliki dampak pada seluruh wilayah Timur Tengah.

"Kami mengakui setiap unsur spektrum politik di Mesir sebagai teman dan saudara kami. Wilayah tersebut memerlukan lebih dari sekedar pemulihan kestabilan di Mesir," kata Davutoglu di Baku, Azerbaijan, Rabu (17/7).

Menteri luar negeri Turki itu mendesak setiap pelaku agar berjuang bagi keinginan rakyat Mesir guna mengejawantahkan dirinya.

Turki telah mengesahkan kebijakan ke arah Mesir guna menekankan kepercayaan pada rakyat Mesir, dan memiliki keprihatinan sehubungan dengan penggulingan presiden yang pertama dipilih secara demokratis di Mesir, kata Davutoglu sebagaimana dilaporkan Xinhua.

Menurut menteri luar negeri itu, Turki telah menyediakan buat Mesir dukungan keuangan sebesar dua miliar dolar AS, dan memiliki penanaman modal yang mendukung sebanyak 50 ribu tenaga kerja di negeri Afrika tersebut.

"Sehubungan dengan ini, hubungan Turki-Mesir takkan pernah terganggu," katanya.

Bentrokan antara penentang dan pendukung presiden Muhammad Mursi telah berlangsung terus setelah militer Mesir membekukan undang-undang dasar Mesir dan menggulingkan Moursi dari jabatan pada 3 Juli.

Ikhwanul Muslimin  tak mengakui keputusan penggulingan oursi dan menuntut dikembalikannya presiden terpilih Mesir itu ke jabatannya. Pada 10 Juli, Kantor Jaksa Agung Mesir mengeluarkan dekrit untuk menangkap para pemimpin Ikhwanul Muslimin.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement