Kamis 25 Jul 2013 20:04 WIB

Pengakuan Ayah Korban Tragedi Kapal Tenggelam di Cidaun.

Red:
Seorang anak pengungsi pencari suaka
Seorang anak pengungsi pencari suaka

CANBERRA  -- Seorang ayah yang anaknya tenggelam dalam kecelakaan kapal di selatan pulau Jawa tidak mengetahui kalau keluarganya sedang menuju Australia

Ayah yang sedang berduka karena anakanya berumur tiga tahun tenggelam tidak mengetahui kalau istri dan anaknya menuju Australia sampai mendapat dari istrinya, bahwa kapal mereka tenggelam di lepas pantai selatan Jawa. Sebelas orang dipastikan tewas dan 189 lainnya selamat menyusul tragedy kapal pencari suaka pada Selasa kemarin. Kapal tersebut ditumpangi lebih dari 200 orang.

Naradasa Balamanaran asal Sri Lanka kini bekerja sebagai buruh pabrik sejak dia tiba di Australia pada 2009. Dia pertama kali mengetahui istri dan anaknya, Baremithan Balamanaran menumpang di kapal nahas itu saat istri menelefon. Dia sendiri tidak mengetahui dari mana istrinya menelfon.

Mayat anaknya ditemukan diantara para korban yang berhasil diselamatkan. Teman Balamanaran, Runu Ramanathan menemaninya sejak mendapat kabar buruk itu dan menterjemahkan wawancaranya dengan program ABC’s PM. “Saat mendengar kabat itu, dia langsung melempar telefon dan menangis,” kata Ramanathan.

Dia mengungkapkan kabar itu diketahui dari hubungan telpon yang sangat sebentar

Sebelum tragedy, Balamanaran lama tak mendengar kabar dari istrinya. Saat itu istri dan anaknya melakukan perjalanan dari Sri Lanka ke Indonesia dan membayar penyelundup untuk bisa sampai ke Australia.

Menurut Ramanathan, temannya sangat putus asa. “Saya tidak bisa menjelaskan apa yang dilakukannya... reaksinya karena anaknya meninggal, dia terus berfikir soal itu,” jelasnya.

Dia juga menyatakan marah kepada para penyelundup manusia-bukan ke istrinya.

Balamanaran tengah berusaha untuk mengajukan visa pasangan suami-istri, namun sayangnya pengajuan itu ditolak.

Ramanathan juga mengatakan temannya kini menunggu bantuan agar dia bisa mengetahui dimana mayat anaknya. "Itu sebabnya kami datang ke Palang Merah. Palang Merah dapat membantu kita untuk mengetahuisemua hal," harapnya.

Sejak Januari tahun ini, lebih dari 16.000 pencari suaka tiba di Australia dengan perahu, mayoritas dari Iran, Afghanistan, Sri Lanka dan Pakistan.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement