Sabtu 31 Aug 2013 17:28 WIB

Obama Pertimbangkan Aksi Militer Terbatas di Suriah

Rep: Fenny Melisa/ Red: Karta Raharja Ucu
Tim Investigasi PBB tiba di Suriah untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia di pinggiran kota Damaskus.
Foto: AP PHOTO
Tim Investigasi PBB tiba di Suriah untuk menyelidiki dugaan penggunaan senjata kimia di pinggiran kota Damaskus.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Presiden Amerika Serikat (AS), Barrack Obama mempertimbangkan aksi militer terbatas di Suriah.

Aksi militer tersebut dicanangkan pascaserangan di Suriah pekan lalu yang diduga menggunakan senjata kimia terlarang dan menewaskan 1429 orang, 426 di antaranya anak-anak. "Apa yang terjadi di Suriah pekan lalu  merupakan serangan yang tak terbayangkan," ujar Menteri Luar Negeri AS, John Kerry seperti dinukil dari Al-Jazeera, Sabtu (31/8).

Kerry mengatakan, penggunaan senjata kimia dapat mengancam keamanan nasional AS. Negeri Paman Sam itu juga berkilah penyidikan tim investigasi senjata kimia PBB di Suriah, hanya untuk mengkonfirmasi senjata kimia jenis apa yang dipergunakan.

“Pertanyaan yang paling penting saat ini adalah bukan lagi apa yang perlu kita ketahui, tapi apa yang akan kita dan dunia lakukan,” katanya.

Terkait dengan penggunaan senjata kimia, kata Kerry, akan ada aksi militer terhadap Suriah. Kerry mengklaim aksi militer yang dilakukan AS bukan untuk memperpanjang perang. Washington, kata Kerry, masih berkomitmen menyelesaikan krisis yang terjadi di Suriah secara diplomatis.

Namun, tindakan AS yang berencana memberlakukan aksi militer di Suriah tidak mendapatkan dukungan dari Inggris. Beberapa anggota dewan parlemen Inggris pascapembicaraan antara Kerry dan Obama dengan Perdana Menteri Inggris David Cameron, menolak adanya aksi militer AS di Suriah.

Kerry mengatakan, Wangshiton tidak ambil pusing ada atau tidaknya dukungan dari negara lain. "AS memiliki keputusan sendiri berdasarkan kepentingan kami," katanya.

Walaupun tidak mendapat dukungan Inggris, rencana aksi militer AS di Suriah mendapatkan dukungan dari Prancis. Presiden Prancis, Francois Hollande mengatakan aksi militer yang direncanakan AS atas penggunaan senjata kimia perlu dilakukan. "Jika tidak maka akan membahayakan rakyat Suriah," ujarnya.

Hollande tidak memerlukan suara parlemen untuk memutuskan negara yang dipimpinnya itu campur tangan terhadap apa yang terjadi di Suriah saat ini. Seorang pejabat Istana Elysee mengatakan Hollande dan Obama membicarakan rencana aksi militer pada Jumat (30/8).

"Sebagai sekutu dekat, Prancis dan AS akan bekerja sama terutama pada hal yang dapat memengaruhi keamanan internasional," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement