CANBERRA -- Sejumlah peneliti di Australia menyatakan bahwa perusahaan minuman keras (miras) menggunakan media sosial Twitter untuk mempromosikan produk mereka ke audiens di bawah umur.
Tim peneliti University of Western Sydney melacak ‘kicauan’ berbagai perusahaan alkohol global, seperti Corona, Heineken, Smirnoff dan Jack Daniels selama enam bulan.
Mereka menemukan bahwa kicauan perusahaan-perusahaan tersebut seringkali di re-tweet hingga mencapai audiens yang lebih luas. Resiko kicauan tersebut dilihat pengguna twitter di bawah umur pun makin besar.
Selain itu, penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan hashtag (#) meningkatkan jumlah audiens. Caranya adalah dengan mengkaitkan promosi alkohol dengan acara-acara populer seperti konser.
Studi ini diterbitkan di Medical Journal of Australia edisi terbaru.
Menurut salah satu peneliti, Dr Ann Dadich, seharusnya terdapat aturan yang lebih keras untuk promosi alkohol.
“Banyak pengguna Twitter yang berusia muda, ada beberapa orang yang mungkin berpendapat, ‘Yah, ini terlalu sulit untuk diatur’,” ucapnya.
Dadich menyatakan bahwa Twitter merupakan arena promosi baru untuk perusahaan-perusahaan, dan melalui arena ini mereka bisa mencapai tidak hanya audiens primer tapi juga sekunder.
Dalam laporan para peneliti tersebut, perusahaan Budweiser mengirim 286 kicauan selama enam bulan ke sekitar 15.000 pengikutnya di Twitter.
Kicauan-kicauan tersebut kemudian di re-tweet sebanyak 13.252 kali.
Sam Biondo, yang menjabat Executive Officer di Victorian Alcohol and Drug Association, berkata bahwa ini adalah celah peraturan yang harus diatasi.