Selasa 17 Sep 2013 09:01 WIB

PBB Konfirmasi Senjata Kimia yang Dipakai di Suriah

Rep: Nur Aini/ Red: Fernan Rahadi
Jasad korban serangan senjata kimia di Ghouta, Suriah, Rabu (21/8).
Foto: AP/Shaam News Network
Jasad korban serangan senjata kimia di Ghouta, Suriah, Rabu (21/8).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Lembaga PBB mengkonfirmasi penggunaan senjata kimia, gas sarin di Suriah. Dalam laporan PBB, sarin digunakan dalam sebuah serangan roket di ibu kota Suriah, Damaskus, bulan lalu. Akan tetapi, PBB tidak menyebut siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

"Ini kejahatan perang," ujar Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon dikutip BBC edisi Senin (16/9).

Sebelumnya, PBB melaporkan ada 14 serangan senjata kimia di Suriah sejak September 2011. Ban memberi laporan investigasi tentang serangan senjata kimia yang terbaru. "Misi menyimpulkan senjata kimia digunakan relatif dalam skala besar di wilayah Ghouta Damaskus. Serangan mengakibatan banyak korban, khususnya di kalangan warga sipil," ungkapnya.

Ban menjelaskan korban mengalami berbagai gejala setelah serangan terjadi. Gejala tersebut termasuk sesak napas, disorientasi, gangguan mata, penglihatan kabur, mual, muntah, dan lemah umum. "Banyak yang akhirnya kehilangan kesadaran. Responden pertama mendiskripsikan melihat banyak individu tergeletak di tanah, banyak dari mereka tewas atau tidak sadar," ungkap Ban.

Para penyelidik PBB memeriksa darah, rambut, urin, dan sampel roket. Ban mengatakan 85 persen dari sampel darah diuji positif sarin. Ban mengatakan kendaraan pengirim gas adalah varian dari arteleri roket M14, ditembakkan dari daerah yang tidak ditentukan dari utara-barat.

Dia mengatakan misi tidak dapat memverifikasi jumlah korban. "Ini adalah penggunaan senjata kimia yang dikonfirmasi signifikan melawan warga sipil sejak Saddam Hussein menggunakannya di Halabja pada 1988," ujar Ban.

Amerika Serikat dan sekutunya menyalahkan pemerintah Suriah yang menggunakan senjata kimia. Sebelumnya, AS berencana menyerang Suriah sebagai hukuman atas penggunaan senjata kimia. Namun, rencana ditunda setelah dicapai kesepakatan antara AS dan Rusia untuk melucuti senjata kimia Suriah sampai pertengahan 2014.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement