REPUBLIKA.CO.ID,NEW YORK--Suriah telah menyerahkan data tambahan terkait detil program senjata kimia mereka kepada para ahli. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jum'at (4/10), menilai hal ini bentuk kepatuhan atas deklarasi 21 September tentang senjata gas beracun.
Tim ahli senjata kimia yang dibentuk PBB tergabung dalam Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW) yang bermarkas di Den Haag, Belanda. Beberapa anggota PBB juga digebungkan dalam tim itu.
Pekan lalu, Dewan Keamanan (DK) PBB, menginginkan senjata kimia milik Suriah segera dilenyapkan. Juru bicara PBB, Martin Nesirky, mengatakan Direktur Jenderal OPCW, Ahmet Uzumcu telah mengabari Dewan Eksekutif OPCW dan membenarkan penyerahan detil program senjata kimia oleh Suriah.
''Data tambahan yang dikumpulkan itu akan dianalisis oleh OPCW. Namun hingga saat ini detil informasi yang diterima OPCW belum kami dapatkan,'' kata Nesirky. Ia menambahkan, Uzumcu diharapkan dapat segera memberi perkembangan terbaru penyelidikan senjata kimia Suriah kepada negara anggota PBB.
Para diplomat Barat di New York mengatakan agen intelejen negara mereka sedang menganalisis deklarasi program senjata kimia Suriah yang dikembangkan semasa kepemimpinan Presiden Bashar al-Assad. Walau Assad telah mengikuti deklarasi 21 September itu dengan membuka informasi program pemerintahnya. Deklarasi yang berlangsung di Damaskus itu belum dipublikasikan hingga saat ini.
Bedasarkan informasi intelejen Prancis, senjata kimia Suriah meliputi lebih dari 1.000 ton bahan kimia dan prekursor untuk membuat gas sarin beracun yang menimbulkan gangguan saraf.
Pemerintahan Assad, yang saat ini berada di bawah ancaman serangan militer Amerika Serikat (AS), melepas gas sarin pada 21 Agustus lalu dan menewaskan lebih dari 1.400 orang. Pemerintahan yang telah berpuluh-puluh tahun berkuasa itu telah sepakat untuk mengikuti deklarasi Konvensi Senjata Kimia dan menghentikan program senjata kimia, September lalu.