Rabu 23 Oct 2013 20:05 WIB

Arab Saudi Merajuk kepada Amerika

Rep: Ichsan Emrald Alamsyah/ Red: Karta Raharja Ucu
Seorang warga membawa bendera Arab Saudi (Ilustrasi)
Foto: REUTERS
Seorang warga membawa bendera Arab Saudi (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, RIYAD -- Arab Saudi merajuk kepada Amerika Serikat. Bahkan, Saudi mengancam bakal 'mutusin' Negeri Paman Sam karena kembali menjalin hubungan dengan Iran untuk kali pertama dalam 30 tahun terakhir.

Selain itu, Saudi kesal kepada Amerika lantaran batal menyerang Suriah. Berlarut-larutnya konflik Israel-Palestina juga menjadi alasan Saudi melontarkan ancaman kepada Amerika. Dikutip Aljazeera, Kepala Intelijen Arab Saudi, Bandar bin Sultan, mengatakan ancamannya itu adalah perubahan besar dalam hubungan dengan Amerika.

AS juga sempat tak merespon dukungan Saudi kepada Bahrain yang mencoba menggagalkan demonstrasi antipemerintah pada 2011. Apalagi, Saudi merasa, AS semakin dekat dengan Iran.

Walau Bandar mengakui pergeseran hubungan dengan AS adalah sesuatu yang sangat besar, tetapi tak diketahui apakah pernyataannya tersebut didukung Raja Abdullah.

''Saudi tak ingin lagi merasakan diri mereka tergantung (kepada AS),'' ujar sebuah sumber yang mengetahui kebijakan Saudi, dikutip Aljazeera, Selasa (22/10).

Tetapi, pembekuan hubungan dengan AS juga diikuti dengan penolakan Kerajaan Saudi atas kursi tak tetap Dewan Keamanan PBB. Penolakan itu sebagai protes standar ganda PBB.

Duta Besar Arab Saudi untuk PBB, Abdallah al Mouallimi, menyatakan negaranya menolak kursi panas itu. Ia mengkritik kegagalan Dewan Keamanan untuk mengakhiri konflik Palestina-Israel dan Perang Suriah. DK PBB juga gagal menyelenggarakan konferensi zona bebas senjata pemusnah massal di Timur Tengah.

Sekjen PBB, Ban Ki Moon mengaku belum menerima pemberitahuan resmi soal penolakan Arab Saudi. Jubir PBB, Martin Nesirky menegaskan Sekjen PBB, Dewan Keamanan dan Majelis Umum belum mendengar secara resmi penolakan Saudi.

Selama ini Saudi mendukung oposisi untuk menggulingkan Presiden Bashar al Assad. AS juga selama ini mendukung Oposisi, namun dalam sebuah konsensus, DK PBB mengeluarkan resolusi yang didukung AS dan Rusia untuk menghancurkan senjata kimia Suriah. Padahal di saat yang sama, Saudi menganggap Pemerintah Bashar al Assad tetap membunuhi rakyat mereka.

Al Mouallimi menuduh rezim Suriah melanjutkan kampanye memusnahkan rakyatnya sendiri. Ia pun menilai DK PBB gagal melindungi rakyat Suriah.

Berbicara terpisah, Menlu AS, John Kerry mengaku telah membahas kekhawatiran tersebut dengan Saudi. Ia menegaskan hingga kini AS memiliki kebijakan, lebih baik tidak ada kesepakatan daripada menghasilkan negosiasi yang buruk dengan Iran.

Ia juga yakin Arab Saudi dan Amerika Serikat akan terus menjadi teman dekat dan sekutu yang penting. ''Saya menegaskan kembali komitmen Presiden Barack Obama bahwa tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," tutur Kerry di London.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement