Ahad 03 Nov 2013 18:55 WIB

Yordania Serukan Bantuan Internasional Bagi Pengungsi Suriah

Pengungsi Suriah di Desa Al Marj, Lembah Bekaa, Lebanon.
Foto: EPA/Lucie Parsaghian
Pengungsi Suriah di Desa Al Marj, Lembah Bekaa, Lebanon.

REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN -- Raja Abdullah II, Ahad mengatakan kehadiran ratusan ribu pengungsi Suriah menghabiskan sumber-sumber penghasilan Yordania yang langka, dan menyerukan bantuan internasional untuk mengatasi masalah itu.

Yordania kini menampung sekitar 600.000 pengungsi Suriah -- satu masalah yang menghabiskan sumber penghasilan kita yang terbatas dan memberikan tekanan besar pada prasarana kita," kata raja itu dalam satu pidato di parlemen.

"Jika masyarakat internasional tidak segera bergerak membantu beban yang kita hadapi dari krisis Suriah , Yordania harus dapat melakukan tindakan-tindakan untuk melindungi kepentingan rakyat dan negara kita," katanya tanpa merinci lebih jauh.

Raja itu mengatakan sejak awal konflik Suriah, Yordania mendesak bagi satu kebijakan mendukung satu solusi politik yang mendorong persatuan negara yang diamuk perang itu dan keutuhan wilayah serta keamanan di kawasan itu.

Badan PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) mengatakan ada 541.025 pengungsi yang terdaftar di Jordania termasuk lebih dari 100.000 orang di kamp gurun Zaatara di utara dekat perbatasan kedua negara.

Yordania berulang-ulang menyerukan bagi bantuan internasional lebih banyak.

Yordania mengatakan kedatangan pengungsi yang terus terjadi menyebabkan satu beban berat pada masalah pasokan air dan listrik serta perumahan dan pendidikan, sementara para warga Yordania yang menganggur menghadapi persaingan dari pengungsi Suriah bagi pekerjaan.

Pada Kamis, Amnesti Internasional mendesak dukungan internasional untuk membantu Yordania dan negara-negara lain yang menampung pengungsi Suriah mengakhiri penutupan perbatasan bagi mereka yang melarikan diri dari konflik itu.

Lebih dari 115.000 orang tewas dan sekitar 2,1 juta orang terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka-- sebagian besar ke Yordania, Lebanon,Turki, Irak dan Mesir-- sejak konflik itu meletus setelah satu tindakan keras terhadap para pemrotes yang dimulai Maret 2011 terhadap Presiden Bashar al-Assad.

sumber : Antara/AFP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement