Rabu 20 Nov 2013 08:02 WIB

Venezuela Minta Twitter Tutup Akun Pemuat Kurs Dolar

Twitter
Foto: Reuter
Twitter

REPUBLIKA.CO.ID, CARACAS -- Venezuela, pada Selasa (19/11) meminta Twitter untuk memblokir akun-akun penggunanya yang memuat nilai tukar dolar ilegal di negara yang telah mengontrol ketat mata uangnya sejak 2003.

Regulator telekomunikasi negara Conatel mengirim surat mendesak kantor pusat Twitter di San Francisco, California, Amerika Serikat (AS). "Twitter diminta untuk memblokir akun-akun dan pengguna situs web yang secara ilegal mencatatkan mata uang di Venezuela," kata lembaga itu menjelaskan di situs webnya, yang dilansir dari AFP, Rabu (20/11).

Menurut hukum Venezuela, adalah ilegal memublikasikan nilai tukar pasar gelap, yaitu delapan kali lebih tinggi dari kurs resmi 6,3 bolivar per dolar AS. Pemerintah berpendapat hal ini mendorong spekulasi dan mempercepat inflasi.

Badan ini menulis bahwa penerbitan kurs pasar gelap untuk dolar pada Twitter adalah memberatkan bagi ekonomi Venezuela dan berpotensi membahayakan penyedia layanan internet yang tidak memblokir konten. Perusahaan AS tidak segera menanggapi permintaan untuk komentarnya.

Permintaan Conatel yang berusaha untuk memblokir 50 situs web yang ditutup pada 9 November oleh pemerintah kepada Twitter untuk menghindari keputusan resmi. Akun itu telah ada selama beberapa tahun dan menerbitkan kurs nilai tukar tidak resmi. Jika mereka ditutup, mereka akan cepat muncul kembali dengan nama yang berbeda.

Satu-satunya cara resmi untuk mendapatkan dolar di Venezuela adalah melalui yang disebut lembaga pengelolaan mata uang (Cadivi), yang mereka jual pada 6,3 bolivar terhadap dolar, atau melalui lelang yang digelar oleh bank sentral, di mana dolar dapat bergerak untuk 10 sampai 12 bolivar untuk satu dolar.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement