Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

Senin, 15 Safar 1441 / 14 Oktober 2019

SBY: Di Asia Tenggara Terjadi Defisit Kepercayaan

Jumat 13 Des 2013 10:49 WIB

Rep: Esthi Maharani/ Red: Dewi Mardiani

Presiden SBY

Presiden SBY

Foto: biographypeople.info -

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti perkembangan keamanan di kawasan. Tak hanya Asia Timur tetapi juga Asia Tenggara. Ia menilai, saat ini yang diperlukan adalah rasa saling percaya antar negara-negara di kawasan. Apalagi, belakangan justru terjadi defisit kepercayaan.

“Kita perlu membangun kepercayaan yang strategis yang akan secara otomatis mengurangi deficit kepercayaan yang terjadi saat ini,” katanya saat memberikan kuliah umum tentang arsitektur keamanan kawasan di Kensei Kinenkan, Jumat (13/12).

Kuliah umum tersebut dihadiri oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe dan doctor Takeshi Shiraishi. Menurutnya, rasa saling percaya antar negara-negara di kawasan telah menjadi fondasi kuat untuk negara Asia Tenggara. Terlebih lagi, semua negara di Asia Tenggara telah menjadi bagian dari keluarga besar ASEAN.

Dengan hal itu pula, Presiden menyakini telah banyak mengubah pandangan negara-negara ASEAN tentang kawasan. Meski dinilai berhasil di ASEAN, Presiden SBY menyadari rasa saling percaya dan menciptakan kawasan yang aman dan damai untuk Asia Timur jauh lebih kompleks, terutama hubungan antara Jepang dan Cina dengan sejumlah persoalan perbatasan dan keamanan kedua wilayah.

Menurutnya, intensitas ketegangan kedua negara sebaiknya dikurangi terutama yang bersinggungan dengan aksi kekerasan. Menurutnya, jika terjadi konflik terbuka diantara kedua negara, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dua negara tersebut, tetapi negara lain terutama kawasan.

“Saya paham, di Asia Timur permasalahannya jauh lebih kompleks dan isu tentang kepercayaan masih menjadi hal yang problematik. Saya percaya tanpa rasa saling percaya akan sulit mencapai lingkungan yang bebas dari tekanan dan konflik. Kita perlu untuk terus mengurangi tekanan dan memanag tekanan yang ada,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA