Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Snowden Tawarkan Bantuan Brasil Ungkap Spionase AS

Rabu 18 Dec 2013 09:23 WIB

Red: Taufik Rachman

This June 9, 2013 photo provided by The Guardian newspaper in London shows Edward Snowden, who worked as a contract employee at the US National Security Agency, in Hong Kong. (file photo)

This June 9, 2013 photo provided by The Guardian newspaper in London shows Edward Snowden, who worked as a contract employee at the US National Security Agency, in Hong Kong. (file photo)

Foto: AP/the Guardian

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Pembocor intelijen Amerika Serikat Edward Snowden menawarkan bantuan kepada Brazil mengenai bagaimana mengatasi spionase AS, namun sebelum melakukan itu dia menginginkan suaka politik permanen, demikian bunyi surat Snowden seperti dikutip AFP.

Manuver Snowden ini ditafsirkan luas sebagai permintaan suaka darinya kepada Brazil, termasuk seperti dilaporkan koran Folha de Sao Paulo yang menyiarkan surat Snowden itu dalam bahasa Inggris dan Portugis.

Snowden telah membocorkan program pengumpulan informasi panggilan telepon dan email di seluruh dunia, termasuk Brazil, oleh Lembaga Keamanan Nasional (NSA).

Dalam surat itu dia menyebutkan bahwa para pejabat AS telah melegalkan aksi spionase itu dengan alasan "demi membuat Anda aman", tapi menurut Snowden, program pemata-mataan ini tidak pernah berbicara tentang terorisme, melainkan tentang spionase ekonomi, pengendalian sosial dan manipulasi diplomatik. Itu semua tentang kekuasaan."

"Kini seluruh dunia mendengarkan kembali dan menuntut," kata dia. "Budaya pengamatan tanpa pandang bulu di seluruh dunia yang telah memicu debat publik dan investigasi sesungguhnya di seluruh dunia itu tengah ambruk."

Dalam surat itu Snowden tidak meminta suaka politik kepada Brazil, namun menegaskan bahwa para senator Brazil telah meminta bantuan kepadanya dalam investigasi mereka atas kejahatan terhadap warga negara Brazil.

Snowden mengatakan dia ingin membantu kapan pun dibutuhkan namun sayang pemerintah AS berupaya sangat keras "untuk membatasi kemampuan saya melakukan itu."

"Sampai sebuah negara memberi suaka politik yang permanen, pemerintah AS akan terus mengganggu kemampuan saya berbicara," kata dia.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA