Selasa 14 Jan 2014 15:47 WIB

AS Sewot Dengan Perjanjian Nuklir Rusia-Iran?

Rep: gita amanda/ Red: Taufik Rachman
fasilitas nuklir Iran
Foto: frontpagemag.com
fasilitas nuklir Iran

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON-- Rusia dan Iran dilaporkan tengah melakukan negosiasi kesepakatan perdagangan bernilai multi miliar dolar. Gedung Putih menganggap negosiasi tersebut akan merusak perundingan nuklir dengan Teheran.

Dari laporan berita pekan lalu, Rusia dan Iran telah membuat kesepakatan pertama yakni, Irak menerima 1,5 miliar per bulan untuk minyak. Kesepakatan tersebut menurut para ahli, dapat merusak kredibilitas Gedung Putih, yang mengklain Irak akan menerima bantuan hanya sebesar 7 miliar dolar secara bertahap. Hal itu sebagai bantuan sanksi yang ditukar dengan konsesi nuklir Iran.

Menlu AS John Kerry memandang serius ancaman terhadap perjanjian dengan Iran. Kerry secara pribadi mengangkat isu tersebut dengan menghubungi mitra Rusianya, Sergei Lavrov.

"Jika laporan ini benar, kesepakatan akan menimbulkan kekhawatiran serius karenaa menjadi tak konsisten dengan perjanjian antara P5+1 dengan Iran," ujar juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Caitlin Hyden pada Reuters.

Pada Ahad (12/1) lalu, negara P5+1 mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Iran. Perjanjian sementara tersebut akan mulai berlaku pada 20 Januari mendatang.Menurut kesepakatan, yang disepakati pada November, Iran setuju untuk menangguhkan program pengayaan nuklirnya.

Dan sebagai imbalan, negara-negara Barat akan mengurangi sanksi dan memberikan bantuan secara bertahap senilai 7 miliar dolar selama enam bulan.Gedung Putih mengaku khawatir, kerjasama Rusia dan Irak dapat merusak pengaturan sanksi.

Barack Obama sebelumnya juga mendesak Kongres AS untuk tidak meloloskan sanksi baru untuk Teheran, selama negosiasi berlangsung. Menurutnya, sulit mengamankan perjanjian komprehensif dengan Iran.Iran dijadwalkan akan menerima bantuan pertamanya pada 1 Februari.

Pejabat mengatakan, Iran akan menerima dalam bentuk 550 ribu dolar, yang diambil dari dana sitaan pemerintah AS selama periode sanksi sebesar 4,2 miliar dolar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement