Jumat 31 Jan 2014 16:18 WIB

AS Kecewa Terhadap Oposisi Suriah

Rep: dessy saputri/ Red: Taufik Rachman
Militan Suriah
Foto: Al Alam
Militan Suriah

REPUBLIKA.CO.ID,WASHINGTON – Amerika Serikatkecewa terhadap sikap Suriah yang terus mengulur-ulur waktu dalam pemusnahansenjata kimianya. Dilansir dari Reuters, Amerika menuduh Suriah memperlamadalam proses penyerahan senjata kimianya.

“Upaya untuk melucuti senjatakimia dari Suriah telah terhenti,” kata Robert Mikulak, perwakilan AS untuk OrganisasiPelarangan Senjata Kimia di Den Haag. Dalam pernyataannya, Mikulak telahmenuduh Suriah menunda proses pelucutan senjata kimia.

Gedung Putih pun mengatakanbahwa Suriah perlu mengupayakan pengiriman senjata kimia ke pelabuhan Latakia. “Suriahmengatakan bahwa penundaan pengiriman senjata kimia disebabkan oleh masalahkeamanan,” lanjut Mikulak.

Operasi pengiriman senjata kimia Suriah ini diperkirakan tidak akan memenuhi target yang dijadwalkan. Pasalnya,hingga saat ini masih terdapat banyak bahan kimia yang belum dikirimkan.  

Departemen Luar Negeri AS menyebutkan hanya sekitar 4 persen dari 1.300 ton bahan kimia Suriah yang telah dikiriman ke luar negeri untuk segera dihancurkan di laut.

Seorang jurubicara Departemen Luar Negeri pun memperingatkan Suriah bahwa tindakan militer masih dapat dilakukan apabila Suriah tidak segera menyerahkan senjata kimianya.

Pihaknya pun memintakepada Rusia untuk menekan sekutunya, Damaskus, agar mematuhi kesepakatan pelucutansenjata. Sedangkan, Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel juga meminta MenteriPertahanan Rusia Sergei Shogun untuk menekan pihak Suriah.

Sementara itu, perundingan damai Suriah tahap pertama ini telah ditutup pada Jumat. Perundingan ini akan dilanjutkan kembali pada 10 Februari mendatang. “Saya berharap dalam perudingan berikutnya, kami mampu untuk melakukan diskusi yang lebih terstruktur,” kata mediator Lakhdar Brahimi.

Ditutupnya perundinganperdamaian tahap awal ini menyusul gagalnya persetujuan atas penyaluran bantuanke wilayah Homs. Perang saudara yang mengepung wilayah Homs membuat jutaan warga kelaparan.

Dalam perundingan itu,rezim Suriah dan wakil oposisi belum meraih kesepakatan terkait kekerasan dinegara itu. “Tentu saja ada kesepakatan bahwa terorisme merupakan masalahserius di Suriah, namun belum terdapat kesepakatan terkait penanganannya,” kataLakhdar Brahimi.

Meskipun disebut mengecewakan, perundingan yang dapat mempertemukan dua belah pihak yangbertikai ini dinilai menjadi langkah maju yang penting. “Yang penting adalahkedua belah pihak bertemu dalam satu ruangan,” kata Sekjen PBB Ban Ki-moon,seperti dilansir dari AFP.

Pada hari keenamperundingan tersebut, wakil rezim mendesak semua negara untuk mencegah dan menghentikan aktivitas terorisme. Namun pihak oposisi sendiri menolak permintaan itu sebagai hal yang tidak dapat diterima.

Menurut juru bicara oposisi utama Suriah Louay Safi, pembahasan tersebut akan sia-sia sebelum transisipemerintahan dilakukan. Sementara itu, wakil rezim Assad menyebutkan bahwa posisi Assad tidak dapat diperdebatkan dalam perundingan ini.   

Sebelumnya, Human RightWatch menuduh rezim negara itu telah meratakan ribuan rumah di wilayah yangdiduduki oleh oposisi sebagai hukuman bersama. Selain itu, Badan PengungsiPalestina PBB (UNWRA) juga dilaporkan telah memberikan bantuan kepada wargaHoms dengan mengirimkan 600 paket makanan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement