Ahad 09 Mar 2014 14:20 WIB

Irak: Saudi dan Qatar Pimpin Perang Terbuka

Rep: Gita Amanda/ Red: Citra Listya Rini
Kekerasan tak berhenti di Irak sejak beberapa tahun terakhir.
Foto: Reuters
Kekerasan tak berhenti di Irak sejak beberapa tahun terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Perdana Menteri (PM) Irak Nouri al-Maliki menuduh Arab Saudi dan Qatar mendukung terorisme di Irak. Maliki juga menganggap keduanya berperan dalam ketidakstabilan di Irak dan menyerukan peperangan terbuka pada negara tersebut.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan France 24, Maliki menuduh Saudi dan Qatar menghasut dan mendorong gerakan teroris. Menurutnya, kedua negara mendukung teroris dari segi politik, media, hingga keuangan. Bahkan keduanya dituduh mempersenjatai kelompok pejuang Irak.

"Saya menuduh mereka memimpin perang terbuka melawan pemerintah Irak," kata Maliki kepada wartawan France 24, Marc Perelman.

Maliki menambahkan, Saudi tak hanya mendukung terorisme di negara-negara seperti Irak dan Suriah. Tapi menurutnya Saudi juga mendukung terorisme di seluruh dunia, seperti di Lebanon, Mesir, Libya dan negara di luar dunia Arab.

Mengacu pada kedua negara Maliki mengatakan, keduanya menyerang Irak melalui Suriah. Dengan ini mereka sama saja mengumumkan perang dengan Irak. Maliki juga menyayangkan 'pengumuman' perang itu dilakukan di Suriah, atas dasar sektarian dan politik.

"Kedua negara bertanggung jawab untuk krisis sektarian dan teroris serta keamanan di Irak," ungkap Maliki seperti dikutip kantor berita AFP.

Meski melontarkan tuduhan pada Saudi dan Qatar, tapi Maliki mengatakan Irak tak akan membalas tindakan kedua negara tersebut. Hal ini menjawab kekhawatiran atas stabilitas di kawasan itu.

"Kami tidak ingin memperluas arena konfrontasi," kata Maliki. "Tapi, kita mengatakan ini agar negara-negara itu menyadari dan berhati-hati. Karena dukungan pada terorisme akan berbalik melawan Anda."

Di masa lalu, Maliki menyalahkan negara-negara regional yang tak disebut namanya atas ketidakstabilan di Irak. Dari data PBB, kekerasan di Irak tahun lalu mencapai angka korban tewas tertinggi sejak 2007. Pada 2013 di Irak, korban tewas tercatat mencapai 8.868 jiwa.Maliki menyerukan koordinasi lebih besar terhadap militansi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement