Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Warga Pendukung Rusia Unjuk Rasa di Ukraina

Senin 10 Mar 2014 11:26 WIB

Rep: Dessy Saputri/ Red: Muhammad Hafil

Ukraina

Ukraina

Foto: Sergei Grits/AP

REPUBLIKA.CO.ID, KRIMEA -- Pihak oposisi Ukraina yang telah menguasai pemerintahan kini menghadapi puluhan ribu oposisi yang mendukung Rusia. Dilansir dari BBC, puluhan ribu pengunjuk rasa pro-Rusia ini melakukan aksi unjuk rasa dan terus memperkuat posisinya di Krimea.

Bahkan, sebelumnya dilaporkan bahwa para pendukung Rusia ini juga telah memukuli pendukung lawannya di Sevastopol, Krimea. Sedangkan, di timur Kota Luhansk, aktivis pro Rusia juga telah menduduki kantor pemerintahan setempat dan memaksa gubernurnya untuk mengundurkan diri.

Di timur Kota Donetsk, para pendukung Rusia pun menurunkan bendera Ukraina di dekat gedung pemerintahan setempat dan menggantinya dengan bendera Rusia. Di tempat terpisah di Kharkiv, sekitar 10 ribu warga berunjuk rasa mendukung Ukraina untuk bersatu dengan meneriakkan "Tidak untuk perang!"

Perdana Menteri Ukraina yang baru Arseniy Yatsenyuk sebelumnya telah berjanji tidak akan menyerahkan tanah Ukraina kepada Kremlin. Sedangkan, menteri pertahanan Ukraina juga menyebutkan bahwa Kiev tidak berencana untuk mengirim pasukannya ke Krimea. 

Melihat perkembangan di Krimea yang semakin bergejolak, para pemimpin Inggris dan Jerman pun kemudian mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menarik kembali pasukannya di Krimea. Presiden Obama pun memberikan dukungannya kepada Ukraina dengan mengundang Yatsenyuk ke Gedung Putih.  

Rusia sendiri semakin memperkuat cengkramannya di wilayah Krimea dengan menambah pasukan. Ia pun berdalih memiliki hak untuk melindungi warga Ukraina yang berbahasa Rusia dan menyatakan langkahnya itu tidak melanggar hukum internasional.

Krimea yang memilih untuk bergabung dengan Rusia juga akan mengadakan referendum pada 16 Maret. Namun, kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan referendum pemisahan diri dari Ukraina untuk bergabung dengan Rusia itu merupakan langkah ilegal.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA