REPUBLIKA.CO.ID, ZAATARI -- Bentrokan terjadi antara pengungsi Suriah dan petugas polisi di kamp pengungsi Zaatari, Yordania utara. Akibat inseden tersebut, 22 polisi Yordania dilarikan ke rumah sakit sementara seorang pengungsi dikabarkan tewas. Namun pemerintah Yordania membantah ada korban tewas di kejadian tersebut.
Pasukan keamanan menggunakan gas air mata untuk membubarkan pengungsi. Saat itu para pengungsi terus melemparkan batu, membakar tenda serta kendaraan.
Pihak berwenang mengatakan, kekerasan terjadi setelah polisi menangkap sekelompok pengungsi. Mereka yang ditangkap tengah mencoba meninggalkan kamp secara ilegal.
"Para perusuh membakar enam tenda dan dua kafilah, serta mencoba menyerang kantor polisi," ungkap Direktorat Keamanan Umum dalam sebuah pernyataan.
Pengakuan berbeda diutarakan pengungsi di Zaatari. Mereka menyatakan bentrokan terjadi karena polisi Yordania melindas seorang anak Suriah berusia empat tahun di kamp pengungsi. Hal itu memicu kemarahan sehingga memicu protes warga.
Saksi mata juga mengatakan, jumlah pengungsi yang terluka dalam kerusuhan lebih tinggi, dari yang dikonfirmasi pejabat Yordania. Padahal sebelumnya, pihak berwenang mengatakan hanya tiga pengungsi yang terluka.
Kamp yang mampu menampung 106 ribu pengungsi tersebut, terletak di gurun Yordania sekitar 12 km dari perbatasan Suriah. Sejak dibuka pada Juli 2012, kamp ini kerap menghadapi protes dari pengungsi. Para pengungsi mengeluhkan kondisi hidup yang buruk di kamp pengungsian terbesar kedua di dunia tersebut.