Selasa 15 Apr 2014 17:18 WIB

Donetsk Bersiap Jadi Medan Perang

Milisi Ukraina pro-Rusia (ilustrasi)
Foto: afp
Milisi Ukraina pro-Rusia (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, DONETSK -- Kelompok separatis Pro-Rusia yang menduduki kantor pemerintah daerah di kota Donetsk Senin berikrar akan menguasai prasarana penting di seluruh provinsi itu yang mereka deklarasikan sebagai "republik rakyat".

Dengan mengabaikan satu ultimatum dari pemerintah Kiev untuk menyerah, sekitar 24 pemimpin separatis berkumpul untuk mengatur satu strategi di satu ruang atas dari gedung bertingkat 11 yang mereka telah kuasai selama delapan hari.

Donetsk, provinsi berpenduduk 4,3 juta jiwa - 10 persen dari seluruh penduduk Ukraina- dan tempat banyak industri berat, adalah paling penting dari daerah-daerah timur di mana para separatis pro-Rusia menduduki kantor-kantor pemerintah pekan lalu.

Kiev mengancam akan melancarkan serangan militer terhadap para separatis dan menuduh Moskow mengatur aksi kekerasan di provinsi-provinsi yang penduduknya menggunakan bahasa Rusia untuk mengulangi kembali skenario di Krimea, satu semenanjung Laut Hitam yang pasukan Rusia rebut dan aneksasi bulan lalu.

Vladimir Makovich, salah seroang dari para pemimpin senior separatis mengatakan para pejabat publik yang ingin melanjutkan pekerjaan mereka harus mengubah kesetiaan mereka.

"Tidak ada satu keputusan penting bisa diambil tanpa anda," kata Makovich yang berjenggot dan mengenakan jaket dril.

Tidak semua milisi sipil yang sebagian besar pria mengenakan topeng yang menduduki gedung di Donetsk itu menyetujui secara persis mengenai tuntutan-tuntutan mereka, dengan sejumlah orang menuntut otonomi lebih luas dalam Ukraina dan yang lainnya ingin bergabung dengan Rusia.

Tetapi mereka yang membawa senapan-senapan berburu, parang, tongkat dan besi batangan -- bersatu dalam penentangan mereka pada Kiev dan bertekad akan merdeka.

"Satu hal yang jelas, tidak akan ada pemilihan presiden 25 Mei bagi kami," kata Denis

Pushilin pemimpin "Republik Rakyat Donetsk", mengacu pada rencana-rencana pemungutan suara yang Kiev harapkan akan dapat memulihkan keadaan normal di negara itu setelah berbulan-bulan konflik.

Pada pekan lalu, para separatis tetap berada di gedung eks-Sovyet it dan menjadikannya satu pangkalan bagi perang kota.

Barikade-barikade ditempatkan di koridor-koridor dan terali-terali baja dipasang pada sejumlah jendela. Pada hari itu, para wanita yang bersimpati pada perjuangan para pria itu datang dan keluar, memasak, membersihkan dan membuang sampah.

Alexander Zakharchenko, komandan berusaia 38 tahun dari satu kesatuan paramiliter dari kota Kharkiv, Ukraina timur, mengatakan para anggotanya siap untuk perang.

"Kami siap menyerbu pada setiap saat. Tidak masalah apapun yang akan terjadi gedung ini tidak akan diserahkan. Itu adalah simbol perjuangan kami dan kami akan melindunginya sebagai satu simbol," katanya dan menambahkan ada sekitar 1.500 petempur di dalam gedung itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement