Jumat 30 May 2014 23:14 WIB

Aktivis Anti-Tembakau Tuntut Kenaikan Pajak Rokok di Asia

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, VICTORIA -- Aktivis anti-rokok menyoroti harga rokok di Asia yang begitu murah sebagai materi kampanye mereka dalam peringatan ‘Hari Tanpa Tembakau’. Rokok dijual murah di banyak negara-negara Asia, dengan bandrol sekitar 1 dolar per bungkus.

Kylie Lindorff dari Dewan Kanker negara bagian Victoria mengatakan, kenaikan pajak adalah salah satu langkah terpenting yang dapat dilakukan pemerintah untuk menghalangi perilaku merokok.

“Pengalaman dari Australia mengajarkan kepada kita bahwa menaikkan pajak adalah langkah satu-satunya yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengurangai bahaya tembakau,” ujar Kylie, baru-baru ini.

Di kawasan ini, dua orang meninggal dunia tiap menitnya karena penyakit yang berhubungan dengan tembakau.

Menurut laporan pajak tembakau yang dirilis ASEAN, jumlah tersebut dikhawatirkan meningkat seiring dengan ekspansi perusahaan tembakau di kawasan ini. Indonesia memiliki tingkat merokok tertinggi di kawasan ini, dengan porsi perokok pria sebesar 67%, dan 34,8 persen perokok perempuan.

Begini kata para perokok di Jakarta tentang apa yang mampu menghentikan kebiasaan mereka.“Orang bilang merokok tidak bagus untuk kesehatan, tapi buat saya, saya tak bisa bekerja tanpa merokok. Saya merokok empat bungkus sehari,” tutur salah seorang perokok lokal.

Indonesia juga memiliki perusahaan pengolah tembakau terbesar di Asia.“Pemerintah tak seharusnya melakukan upaya pengurangan jumlah perokok. Pabrik-pabrik akan tutup, buruh akan kehilangan pekerjaan mereka,” ujar salah seorang perokok lainnya.

Bank Dunia merekomendasikan adanya kenaikan pajak rokok di Asia sebesar dua pertiga hingga empat perlima dari harga rokok di pasaran.

Lembaga PBB yang menangani masalah kesehatan ‘WHO’ bahkan menyebut, pajak rokok harusnya mencakup 70 persen dari harga pasaran rokok.

Ikuti Kompetisi Belajar Bahasa Inggris di Australia gratis - Klik tautan berikut: https://apps.facebook.com/australiaplus

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement