Rabu 11 Jun 2014 18:34 WIB

Sejumlah Fasilitas Layanan Navigasi Udara Australia akan Digabungkan

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Rencana perusahaan penyedia layanan navigasi udara Australia (Airservice Australia) untuk menggabungkan sejumlah fasilitas pengawasan lalu lintas udaranya di sejumlah wilayah menuai kekhawatiran. Kalangan pilot dan petugas pengawas lalu lintas udara menilai tindakan itu akan menimbulkan risiko bagi pengelolaan lalu lintas udara di Australia.

Informasi yang diperoleh ABC, rencana  perusahaan pelayanan navigasi udara milik pemerintah Australia ini akan menghapus fasilitas pengendali  pemantauan wilayah udara di Sydney, Adelaide, dan Cairns. Penggabungan juga akan berlakku untuk unit  yang berada di Melbourne dan Brisbane.

Airservices Australia  yang mengelola kontrol lalu lintas udara di negeri  ini juga merencanakan untuk mengkonsolidasikan beberapa perusahaan Unit pengawas  Terminal (TCU). Setelah pesawat lepas landas, mereka dipantau oleh TCU saat berada di atas wilayah metropolitan yang sibuk sekitar 60 kilometer dari bandara.

Begitu pesawat mencapai wilayah udara yang kurang padat, pengawasan pesawat akan diserahkan kepada  "pengendali jarak jauh ", yang sudah berbasis di Melbourne dan Brisbane. Namun rencana ini mengundang kekhawatiran di kalangan internal airservice Australia sendiri. "Manfaat dari pengetahuan lokal, kontak industri, berbagai karir ... tidak dapat diremehkan," tulis salah satu kontroler, baru-baru ini.

"Begitu juga dengan potensi kemampuan pemulihan bencana dan manfaat lain dari desentralisasi tidak boleh disepelekan juga,”

"Saya pikir ide memindahkan TCU ke wilayah-wilayah pusat itu tidak tepat, dan setiap perubahan kebijakan biasanya akan diikuti oleh berkurangnya pelayanan, hilangnya kepuasan karyawan dan mengurangi kemampuan keseluruhan pihak dalam perusahaan," kata yang lain.

Salah satu hal yang berulang kali dinyatakan oleh para petugas pengawas lalu lintas udara adalah pentingnya pengetahuan lokal. Hal itu diakui oleh mantan pilot Clark Gibbons yang pernah memiliki pengalaman terkait hal itu.

Hampir 20 tahun yang lalu ia menerbangkan pesawat Cessna 210 di dekat Canberra ketika mesinnya gagal berfungsi.

 

Dia menaruh kepercayaannya kepada petugas pengendali lalu lintas udara karena ia dikelilingi oleh awan yang menyilaukan.

Dia mengatakan oleh petugas pengendali lalu lintas dia diminta untuk mendarat di Danau George, yang  secara virtual kelihatan kosong.

"Mereka kemudian memberi kami [arahan] - dan ketika saya berhasil keluar dari awan  ternyata dihadapan kami ada bukit dan mereka tidak memberitahukan itu kepada kami, ternyata kami tidak diarahkan di atas Danau George,” ungkapnya.

"Kami hanya punya waktu sepuluh detik maksimum ... untuk  menyadari kalau didepan ada pepohonan, bukit dan kami tidak tahu pilihan lain kecuali menabrak tebing tersebut,”

Gibbons dan penumpang  yang lain menderita luka bakar serius dalam kecelakaan itu. Petugas yang memandu pesawat Gibbons bermarkas di Melbourne karena Airservice Australia telah menggabungkan Terminal Control Unitnya.

Badan Penyelidik Keselamatan Transportasi Udara Australia dalam penyelidikannya mendapati kalau ternyata petugas yang memandu pesawat yang dikemudikan Gibbons tidak mengenal wilayah Canberra "Meskipun dia menerima saran dari petugas lain yang mengenal wilayah Canberra, namun petugas pemandu terdekat tidak mengenal kawasan itu,” katanya.

"Keterbatasan dari tampilan di radar, yang hanya menggambarkan Danau George secara umum, membuat petugas pemandu tidak mengetahui fitur wilayah dikawasan itu yang lebih detail,’

Airservices pernah mengajukan rencana serupa sekitar satu decade lalu, namun akhirnya dibatalkan karena dianggap tidak menguntungkan.

"Sangat tepat kalau sejumlah kelompok operasional Menara Pengawas Lalu Lintas Udara kita tetap terdesentralisasi terutama ketika masalah keuangan tidak memadai dan langkah ini mengakibatkan diambilnya keputusan untuk mendislokasikan petugas dan keluarganya, “ demikian keterangan dari Mantan Direktur perusahaan penyedia layanan navigasu udara ketika itu, Greg Russel kepada semua stafnya.

Dalam pernyataannya kepada ABC, pihak Airservices mengatakan rencana penggabungan fasilitas itu belum final, dan perusahaannya masih mengevaluasi sejumlah opsi yang ada.

Dikatakannya pemusatan operasi pelayanan navigasiudara dapat memperbaiki pembangunan karir dan membantu menghapuskan pembangunan infrastruktur yang berulang, peralatan dan juga perawatannya.

"Keselamatan merupakan prioritas nomor satu dari perusahaan kami dan analisis mendetail mengenai faktro keselamatan itu tentu saja akan kami lakukan terkait resiko potensial dari rencana perubahan pengelolaan yang kami hendak lakukan,” tulis pernyataan tersebut.

Juru bicara Menteri Transportasi dari Partai Buruh, Anthony Albanese mengatakan dia yakin rencana ini terkait dengan upaya pemangkasan anggaran.

"Kita tidak boleh memotong anggaran kalau itu terkait dengan keselamatan penerbangan,” katanya.

Apalagi mantan Menteri Transportasi ini basis pendukungnya terletak di dekat Bandara Sydney.

"Jika anda tinggal dan bekerja dekat dengan bandara, yang sangat penting di Australia, dan merupakan kawasan yang sangat padat penduduknya, maka wajar jika anda tetap ingin ada menara  pengawas lalu lintas udara di dekat bandara itu dibandingkan dikendalikan dari lokasi yang jauh seperti Melbourne atau Brisbane,” katanya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement