Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Duh.....Euthanasia Paus Mungkin akan Meningkat

Selasa 01 Jul 2014 19:56 WIB

Red:

abc news

abc news

REPUBLIKA.CO.ID, AUSTRALIA -- Meningkatnya jumlah paus yang sakit serta semakin berkurangnya makanan paus mendorong lembaga lingkungan hidup di Australia untuk melakukan euthanasia. Yakni melakukan tindakan membunuh untuk mengurangi rasa sakit kepada paus-paus yang sakit.

Ahli Paus memperingatkan masyarakat bahwa mereka akan menyaksikan penjaga pantai melakukan euthanasia kepada paus yang sakit di masa yang akan datang.

Trevor Long dari Sea World mengatakan populasi paus jenis humpback akan semakin dibatasi oleh jumlah Krill (sejenis udang kecil/plankton) di Selatan samudra dan beberapa Paus akan berjuang untuk bertahan.

Sebagai akibatnya, Departemen Taman Nasional dan Satwa Liar akan terpaksa melakukan euthanasia kepada paus-paus yang sakit di di sepanjang pantai timur Australia.

Long mengatakan mereka akan menggunakan jenis obat Lethabarb untuk mengeuthanasia hewan-hewan yang lebih kecil dan senapan bertenaga tinggi dan peluru untuk paus berukuran menengah.

"Hal ini sangat sulit dan merupakan isu yang sensitif. Kami sudah bekerja bersama dan mengerti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang."

Long mengatakan ia berharap publik akan bersimpati kepada Departemen Taman Nasional karena mengeuthanasia beberapa paus.

Long juga mengatakan Departemen Lingkungan dan Perlindungan saat ini sedang memonitor paus yang sakit di Sunshine Coast dan lembaga tersebut memiliki penembak berlisensi yang siap siaga bila diperlukan.

'Departemen sedang melihat perkembangan paus ini dan kondisi terbaik adalah membiarkannya di lautan dan biarkan alam menjalankan perannya. Saya kira mereka punya pilihan lainnya," pungkasnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA