Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Senin, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Euthanasia Ikan Paus Menggunakan Bahan Peledak

Selasa 01 Jul 2014 20:00 WIB

Red: Maman Sudiaman

Ikan Paus, ilustrasi

Ikan Paus, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, QUENNSLAND -- Ahli ikan paus, Trevor Long mengatakan paus-paus tersebut dieuthanasia menggunakan bahan peledak berskala rendah di Australia Barat. Tetapi metode ini belum pernah digunakan di Queensland.

"Mereka menggunakan selimut peledak untuk euthanasia dengan cara yang sangat manusiawi dan cara ini telah dilakukan di belahan dunia lainnya," ujarnya belum lama ini.

"Selimut peledak diledakkan dengan cara yang terkontrol."

Petugas satwa liar pada hari Kamis mengawasi paus humpback berukuran 6.5 meter yang terlihat sakit di Sunshine Coast.

Paus yang sakit ini muncul di Gold Coast minggu lalu dan sepertinya terkena gigitan Hiu.

Long mengatakan paus-paus sakit yang terdampar diperlakukan berbeda dengan paus yang di laut."Bila paus-paus tersebut terdampar ke pantai dan ia datang dengan sendirinya, maka kami harus melakukan sesuatu untuk membantu paus tersebut tidak menderita terlalu lama, 'ucapnya.

"Kami tidak bisa melakukan euthanasia kepada hewan dengan Lethabarb and membiarkannya pergi ke laut lepas karena banyak hewan-hewan lainnya akan memakan itu. Situasi ini sangat berbahaya."

Dikatakan Long, terdapat sekitar 20 ribu paus jenis humpback melakukan migrasi tahun ini dan jumlahnya semakin meningkat. "Populasi ini meningkat sekitar 10 persen per tahun pada beberapa titik harus menemukan keseimbangan dan pada titik itu adalah pada masa menyusui," ungkapnya.

"Ini akan diatur dengan nutrisi dan hewan-hewan ini memakan Krill di Selatan Samudra."

Long mengatakan populasi paus tersebut sekitar 40 ribu sebelum perburuan paus dimulai pada abad 18 tetapi sumber makanan mereka semakin sedikit karena Krill ditangkapi.

Ia mengatakan penduduk di Tenggara Queenlands akan bisa melihat lebih banyak paus sakit di masa yang akan datang.

"Masalahnya adalah hampir dua pertiga lebih jalur migrasi melewati jalur ini sehingga hampir bisa dipastikan pada jalur ini kita bisa menyaksikan paus-paus yang sakit di tahun-tahun yang akan datang," tambahnya.

'Saya tidak tahu kapan ini akan terjadi tapi ini akan terjadi."

sumber : abc, radio australia
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA