Selasa 08 Jul 2014 23:59 WIB

Rusia Tuding AS Langgar Perjanjian Bilateral

Rep: c66/ Red: Nidia Zuraya
AS-Rusia
AS-Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) telah melanggar kesepakatan bilateral yang dibuat kedua negara, Selasa (8/7). Hal ini dikemukakan menyusul penculikan yang terjadi kepada salah seorang hacker asal Rusia.

Departemen Dalam Negeri AS mengatakan, agen rahasia negara telah menangkap Roman Valerevich Seleznev (30), Senin (7/7). Pria asal Rusia ini ditangkap atas tuduhan mencuri data dalam kartu kredit.

Media Rusia memuat laporan bahwa Roman adalah anak seorang anggota parlemen negara tersebut. Valery Seleznev, seorang anggota parlemen Rusia mengatakan pada media jika ia tidak dapat menghubungi anaknya sejak berita penangkapan terdengar. Valery mengatakan tuduhan yang ditujukan pada anaknya adalah sebuah kebohongan untuk memicu konflik.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan Roman ditangkap saat berada di sebuah bandara di Maladewa. Mereka mengatakan penangkapan ini adalah tindakan provokatif terbaru dari AS kepada Rusia. Dalam hal ini, Rusia menyebut AS melanggar perjanjian bilateral, terkait masalah pidana yang terjadi pada warga di masing-masing negara.

"Ini bukan pertama kalinya AS mengabaikan perjanjian bilateral, terutama dalam hal bantuan timbal balik di tiap kasus pidana. AS juga bertindak sewenang-wenang dengan menculik warga negara kami disana," ujar pernyataan yang ditulis dalam website Kementerian Luar Negeri Rusia, Selasa (8/7).

Roman sebelumnya didakwa di sebuah pengadilan distrik Washington atas tuduhan melakukan penipuan bank. Ia juga disebut merusak fasilitas komputer yang dimiliki AS untuk mencuri data di dalamnya. Roman juga didawa mencuri data yang dimiliki banyak restoran dan tempat-tempat hiburan di AS.

Hubungan antara Rusia dan AS berada dalam kondisi terburuk selama beberapa tahun terakhir. Hal ini terjadi di tengah masa jabatan ketiga, kepemimpinan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kedua negara bertentangan baik dalam pandangan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM),  demokrasi, dan bidang pertahanan. Kondisi ini diperparah dengan konflik yang terjadi di Suriah dan Ukraina, dimana Rusia dan AS saling membela pihak-pihak yang berbeda.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement