REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hak memilih adalah hak politik tiap warga negara tak terkecuali bagi mereka yang terhalang masalah kesehatan dan menjalankan tugas kemanusiaan. Di Ibu Kota Jakarta, KPU DKI Jakarta menyediakan dua tempat pemungutan suara (TPS) di Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Pekan lalu, KPU DKI Jakarta merilis daftar 10 TPS di 6 rumah sakit yang ada di Ibukota. Selain RSCM,ada pula RSUD Cengkareng yang memiliki 2 TPS, kemudian RS Dharmais dengan jumlah TPS yang sama, lalu RSUD Tarakan dengan 2 TPS, RS Carolus yang hanya memiliki satu TPS, dan RS Persahabatan dengan 2 TPS.
Dua TPS di RSCM disediakan bagi para pegawai rumah sakit yang kebetulan mendapat dinas pada jam pemungutan suara. Menurut keterangan Agus Supriyono, pegawai RSCM bagian admin yang juga tim koordinasi TPS setempat, ada lebih dari 1200 pemilih yang terdaftar di rumah sakit pusat tersebut, yang terbagi ke dalam dua TPS yakni TPS 17 dan 18.
Nunung Nurmawati, pegawai RSCM bagian rekam medis, menyempatkan diri untuk memberikan suaranya di TPS 18. Perempuan yang telah bekerja di RSCM selama 4 tahun ini mengaku, pada pilpres ini ia tak mau golput karena walau tengah berdinas, ia dan rekan-rekan kerjanya yang lain, sudah didaftarkan oleh pihak rumah sakit. Ia menuturkan, tak ada tps di RSCM pada Pileg lalu, karena itu, kali ini, ia menggunakan hak pilihnya semaksimal mungkin.
“Saya pilih Jokowi,” ujarnya bangga.
“Saya kena kanker tulang belakang hidung, tapi saya ‘nggak’ mau gara-gara kondisi saya ini, jadi ‘nggak’ bisa ‘nyoblos’,” tuturnya.
“Saya sudah punya formulir A5, sudah diurus sebelumnya,” kata Diding.
Dari pantauan ABC, para pemilih yang hanya menggunakan KTP, tanpa disertai formulir A5, diperbolehkan untuk memberikan suara di dua TPS RSCM. Yudi, pekerja asal Bogor, dan Erlis, pekerja asal Lampung yang tinggal di lingkungan sekitar rumah sakit itu misalnya, diperbolehkan memilih hanya dengan berbekal KTP.
Hal ini tak banyak ditemukan di TPS-TPS lain. Dari pantauan di lini masa media sosial ‘Path’, seorang pemilih di daerah Petojo, Jakarta Pusat, mengaku, tak bisa memilih di TPS dekat kediamannya lantaran tak memiliki formulir A5.