Jumat 01 Aug 2014 17:44 WIB

Harga Rumah di Melbourne dan Sydney Terus Melonjak

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNET -- Harga properti di Australia terus melonjak, dengan dua kota terbesar, Sydney dan Melbourne sebagai pemicu utama setelah beberapa bulan lalu sempat diperkirakan akan lesu.

Menurut data terbaru dari lembaga yang sering menjadi acuan, RP Data-Rismark Home Value Index menunjukkan harga rumah di Melbourne naik 3,7 persen bulan lalu. Sementara di Ibu Kota Wilayah Utara Darwin, naik 2,8 persen. Kenaikan juga terjadi di Sydney dan Canberra.

Data tiga bulanan yang dianggap bisa menjadi pegangan lebih akurat dalam melihat trend panjang, menunjukkan bahwa di Canberra, harga naik 2,1 persen sementara di Sydney naik 2 persen, sedangkan di Melbourne 1,8 persen.

Dengan itu sekarang harga rata-rata rumah di Sydney adalah 650 ribu dolar (sekitar Rp 6,5 miliar), hampir 100 ribu lebih mahal dibandingkan saingan terdekatnya, Melbourne.

ina_house price

Jurang antara Sydney-Melbourne dengan kota-kota lain semakin melebar soal harga rumah. (Photo: ABC)

Dan jurang perbedaan antara Sydney-Melbourne, dengan kota-kota di Autralia lainnya juga tampak dari data yang dikeluarkan sampai tanggal 31 Juli tersebut. Faktanya menunjukkan bahwa Sydney terjadi kenaikan 14,8 persen, dan Melbourne (11 persen) dalam setahun terakhir, sementara kota lain kenaikan di bawah 10 persen.

Di kota-kota lain terjadi peningkatan, dengan Ibu Kota Queensland, Brisbane mencatat kenaikan harga 6,9 persen dalam setahun, namun kemudian dalam tiga bulan terakhir terjadi penurunan harga. Brisbane turun 0,4 persen, Perth 0,1 persen Hobart 1,2 persen sedangkan di Adelaide turun 2,6 persen.

Dalam membaca semua data ini, Direktur Riset RP Data Tim Lawless mengatakan bahwa dalam enam bulan terakhir di Australia, peningkatan harga rumah lebih kecil dibandingkan tahun lalu, dan diperkirakan kecenderungan ini akan terus berlanjut. "Dengan tingkat suku bunga rendah, dan juga kredit rumah turun, kami memperkirakan harga rumah terus akan meningkat. Namun yang akan terjadi adalah tingkat kenaikannya tidak secepat sebelumnya." kata Lawless, baru-baru ini.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement