REPUBLIKA.CO.ID,MANILA - Berbicara tentang Filipina, mungkin kita belum lupa dengan Badai Haiyan yang mengakibatkan ribuan orang tewas, dan menyisakan jutaan warga Filipina kehilangan tempat tinggal.
Negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini memang "akrab" dengan bencana alam, khususnya badai tropis. Letaknya yang dekat dengan Samudra Pasifik dan garis khatulistiwa, memantapkan risikonya untuk terus-terusan dihantam badai tropis.
Kondisi ini seharusnya mendongkrak popularitas ahli cuaca atau meteorolog. Bukan hanya tenar, namun jasa besar mereka dalam "meramal" badai layak dihargai dengan gaji yang tinggi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Dalam sebuah laporan yang dihimpun Al Jazeera, dalam tahun ini saja sudah ada lima ahli cuaca senior Filipina yang mengundurkan dari PAGASA (Asosiasi Astronom dan Geofisikawan Filipina).
Tren ini meningkat dari tahun ke tahun, dan menunjukkan rendahnya kesejahteraan ahli cuaca di Filipina, dengan beban kerja yang berat. "Ini telah menjadi perhatian kami. Mereka bahkan mengundurkan diri secara berkelompok," ujar Esperanza Cayanan, kepala divisi cuaca PAGASA .
"Kami memiliki pelatihan reguler untuk meningkatkan ketrampilan mereka, tapi tentu saja, pengalaman tetap hal utama. Mereka mundur karena alasan pribadi, rumput lebih hijau di luar negeri. Jujur saja, gaji pokok kita dibanding dengan orang-orang luar negeri, sangat rendah," katanya.
Gaji untuk ahli cuaca di Filipina saat ini terbilang rendah, 400 dolar AS per bulan, atau lebih dari Rp 4 juta . Namun dengan pengeluaran di sana yang begitu tinggi, angka tersebut menjadi sangat rendah.
Cayanan mengatakan berdasarkan data resmi, 33 orang terbaik PAGASA telah mengundurkan diri dalam satu dekade trekahir. Mereka terpikat untuk bekerja di negara-negara seperti Dubai dan Qatar di mana mereka mendapatkan gaji lima kali lebih banyak dibanding di negeri mereka sendiri, Filipina.a