Senin 15 Sep 2014 14:38 WIB

Komunitas Muslim Canberra Serukan Persatuan

Red:
abc news
abc news

REPUBLIKA.CO.ID, MELLBOURNE -- Seorang tokoh Muslim dari Kota Canberra, Australia, menyatakan bahwa Canberra adalah kota yang ramah terhadap umat Islam. Tetapi, ada pandangan dan tindakan negatif yang ditujukan pada komunitas tersebut seiring memanasnya debat tentang terorisme. 

Menurut Azra Khan, ketua Canberra Islamic Centre, debat tersebut menampilkan gambaran yang tidak adil tentang kaum Muslim Australia. Pemerintah Australia telah mengumumkan bahwa tingkat kewaspadaan terorisme di negara tersebut telah ditingkatkan, menjadi tingkat tinggi.

Menyusul pengumuman tersebut, masyarakat Muslim di Kota Sydney, Ahad (14/9) lalu berkumpul menunjukkan dukungan mereka terhadap Australia, meskipun ada yang mengeluh bahwa kaum Muslim negara tersebut dijadikan target secara tak adil. Khan menyatakan bahwa sentimen anti-Islam hanya datang dari sebagian kecil masyarakat.

"Kami merasa jengkel saat kami diminta untuk mengkonfirmasi dukungan kami pada Australia," katanya, "Kami orang Australia, dan kami tak ingin melakukan apapun yang menyakiti orang Australia atau merusak reputasi Australia di luar negeri."

Menurut Khan, ada korelasi antara tindakan-tindakan yang diambil terhadap komunitas Muslim dan kekhawatiran akan terorisme. "Saat ada pemberitaan [tertentu] di media, terlihat ada tingkat kemarahan yang ditujukan pada pusat-pusat kajian Islam atau masjid," katanya, baru-baru ini.

Stuart Robinson, Uskup Agung Gereja Anglican Canberra dan Goulburn, menyatakan bahwa ada istilah-istilah tertentu yang bermasalah dalam debat seputar terorisme, seperti 'Tim Australia', yang sempat digunakan Perdana Menteri Tony Abbott. "Kita semua jelas orang Australia, tapi kita harus menghindari jingoisme, dan kita harus menghindari kategori-kategori yang pada akhirnya tidak membantu," ucapnya.

Khan menuturkan bahwa di Canberra sejauh ini tidak ada kejadian-kejadian besar yang menimpa umat Muslim kota tersebut.

Namun, sempat ada serangan vandalisme terhadap Pusat Kajian Islam Canberra Islamic Centre. Menyusul kejadian tersebut, sejumlah anggota masyarakat dari bermacam agama membantu memperbaiki kerusakan yang menimpa gedung tersebut. Selain itu, masih berlangsung penolakan terhadap pembangunan masjid baru di daerah Gungahlin, salah satu kota di Wilayah Ibu Kota Australia.

Pemerintah wilayah tersebut berencana akan mengadakan pertemuan untuk pemimpin komunitas Muslim untuk membahas kekhawatiran-kekhawatiran yang mungkin timbul.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement