REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengatakan, ia benar-benar menentang negara-negara Arab bergabung dengan serangan udara terhadap Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ia mengatakan kekuatan udara Barat telah melakukan banyak kecurangan dalam perjuangan melawan ISIS.
Dalam sebuah wawancara dengan BBC Abadi menentang bergabungnya sejumlah negara Arab dalam serangan udara ke ISIS. Sejauh ini sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi dan Yordania telah bergabung dengan koalisi pimpinan Amerika Serikat, untuk melawan ISIS.
Pesawat-pesawat koalisi telah melakukan serangan di Suriah. Tapi menurutnya hanya pesawat dari AS, Inggris dan Prancis yang mencapai target di Irak. (Baca: Pasukan Elit Irak Kalahkan Kepungan ISIS)
Pada Rabu (1/10) malam Prancis mengatakan, akan mengirim lebih dari tiga jet tempur dan kapal perang ke Teluk. Itu dilakukan untuk mendukung perang melawan ISIS.
Berbicara pada BBC di Baghdad Abadi mengatakan, tentara Irak akan mengalahkan ISIS jika mereka melakukan serangan udara dengan benar. Tapi ia menekankan tak membutuhkan pasukan darat asing.
"Kami jelas-jelas tak akan menerima pasukan darat kecuali pasukan Irak," tambahnya.
Abadi mengatakan dia merestrukturisasi tentaranya untuk menjamin perlindungan masyarakat Irak. Ia juga telah meminta Inggris untuk membantu pelatihan, intelijen, dan teknologi. Menurut Abadi, Perdana Menteri Inggris David Cameron sepakat untuk membantu.
Ia juga memperingatkan bahwa polarisasi internasional dan regional justru telah memberikan kontribusi terhadap munculnya ISIS.