REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD -- Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi menentang negara-negara Arab yang melancarkan serangan udaranya terhadap ISIS di Irak. Menurutnya, serangan udara Barat melawan ISIS di Irak penuh dengan kesenjangan.
Abadi mengatakan militer Irak dapat mengalahkan ISIS jika memiliki perlindungan udara yang baik. Namun, ia menegaskan tak membutuhkan pasukan darat asing. "Kami sangat jelas kami tidak akan menerima pasukan asing di darat kecuali pasukan Irak," jelasnya, dikutip dari BBC
Lanjutnya, pasukan pemerintah Irak berupaya melawan ancaman ISIS terhadap Irak dan menghentikan ancaman serangan terhadap Baghdad. Ia mengatakan tengah membentuk kembali militernya untuk memastikan perlindungan warga Irak dan meminta Inggris agar melatih mereka. Perdana Menteri Inggris David Cameron pun sepakat memberikan bantuan.
Abadi juga memperingatkan polarisasi kawasan dan internasional juga mempengaruhi munculnya ISIS dan menyatakan akan memperbaiki hubungan dengan sejumlah negara tetangga. Lanjutnya, ia telah mengirimkan wakilnya ke Damaskus terkait permintaan Irak terhadap koalisi AS untuk menyerang ISIS di Suriah.
"Sangat penting untuk menghentikan terorisme di perbatasan," katanya. Sejumlah negara Arab termasuk Arab Saudi dan Yordania telah bergabung dalam koalisi internasional melawan ISIS. Serangan mereka juga telah diperluas di Suriah.
Pada Rabu sore, Prancis mengatakan akan mengirimkan tiga jet tempur dan kapal perangnya ke negara Teluk untuk mendukung perlawanan terhadap ISIS. Menurut militer Prancis, jet tempur Rafale akan dikerahkan di Uni Emirat Arab, sehingga jumlah total pesawat Prancis yang beroperasi di pangkalan itu sebanyak sembilan buah.
Koalisi AS tercatat telah melakukan serangan udara lebih dari 230 kali terhadap ISIS di Irak sejak Agustus. Operasi ini juga diperluas ke Suriah pada 22 September lalu. Arab Saudi, Yordania, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab turut berpartisipasi dalam serangan udara di Suriah.
Sebelumnya, pasukan AS telah melakukan serangan udara terhadap ISIS yang bertempur dengan pasukan Kurdi di sekitar perbatasan Suriah utara di kota Kobane. Puluhan ribu warga pun telah mengungsi ke Turki sejak ISIS menyerang dua pekan lalu.
Di Turki, sejumlah menteri telah mengajukan usulan ke parlemen pada Selasa agar mengizinkan pasukan Turki melakukan operasi di Suriah dan Irak, serta mengizinkan pasukan asing menggunakan pangkalan militer Turki. Presiden Tayyip Erdogan pun mengatakan Turki akan melawan ISIS dan semua kelompok teroris lainnya di daerah itu.
"Menjatuhkan bom udara hanya merupakan solusi sementara dan hanya akan menunda ancaman dan bahaya ISIS," katanya di parlemen.