REPUBLIKA.CO.ID, Ottawa County -- Pelajaran mengenai peran agama dalam sejarah di SMA JENISON memicu kontroversi. Orang tua murid melakukan protes karena sekolah mengajarkan Islam dan menyebut 'Allah' sebagai tuhan semua agama.
Dikutip dari laman woodtv.com, kontroversi ini dimulai ketika orang tua murid mengunggah pelajaran agama-agama dunia yang diajarkan di SMA Jenison. Salah satu tugasnya adalah menjelaskan kepada masyarakat mengenai Islam.
Hanya saja orang tua yang mengunggah pamflet itu protes mengenai bahan ajaran itu. Mereka mengaku sedih karena pelajaran itu menyebut Allah sebagai tuhan yang juga disembah kaum Kristiani dan Yahudi.
"Di mata kami, pamflet ini berusaha mempromosikan tetang Islam karena menyebut Allah dengan kata-kata 'indah'," ujar orang tua yang tak ingin identitasnya dimuat di Woodtv.com, Senin (6/10).
Namun Kepala Sekolah Jenison, Brandon Graham menyatakan pamflet itu tidak mempromosikan Islam. Akan tetapi lebih kepada informasi mengenai latar belakang agama sesuai dengan prespektif pemeluknya.
"Jadi misalnya itu Kristen, maka informasi berisi apa yang orang Kristen percaya. Jika Yudaisme, maka apa yang dipercaya orang Yahudi. Jika Islam, maka seperti yang dipercaya kaum muslim," ucap dia.
Sebenarnya, bukan masalah artikel yang diunggah tersebut. Akan tetapi efek akibat setelah artikel tersebut dimuat.
Setelah dimuat, artikel itu dibagi hampir 3 ribu kali. Beberapa menuduh sekolah berusaha mengindoktrinasi siswa dengan propaganda Islam. Khususnya propaganda Islam yang menentang pemisahan gereja (agama) dengan negara.
Media sosial, lanjut Graham menjadi satu hal yang sangat besar. Berbagai informasi, baik salah ataupun benar, menyebar dengan begitu cepat ke masyarakat. Sekolah, tutur dia, selalu mengajarkan bahwa berpikir dahulu sebelum mengunggah sesuatu.
Terkait soal agama, Islam sendiri merupakan salah satu dari lima agama yang dijelaskan. Empat agama lainnya adalah Kristen, Yahudi, Hindu dan Buddha.