Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Sunday, 11 Rabiul Akhir 1441 / 08 December 2019

Anjing Perawat Spanyol Diduga Terinfeksi Ebola

Rabu 08 Oct 2014 15:13 WIB

Rep: Gita Amanda/ Red: Julkifli Marbun

Anjing (ilustrasi)

Anjing (ilustrasi)

Foto: STRAITS TIMES

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID - Korban ebola di Spanyol kemungkinan termasuk seekor anjing bernama Excalibur. Para pejabat di Madrid kini mendapat perintah dari pengadilan untuk mengeuthanasia hewan peliharaan perawat Spanyol, yang sebelumnya diketahui positif ebola.

Setidaknya satu studi besar menunjukkan anjing dapat terinfeksi virus ebola tanpa menunjukkan gejala lebih dulu. Tapi apakah atau seberapa besar kemungkinan anjing dapat menularkannya ke manusia belum diketahui.

Dari hasil percobaan di laboratorium pada hewan lain menunjukkan urin, liur atau feses bisa mengandung virus. Itu berarti secara teori, manusia mungkin dapat terinfeksi melalui jilatan atau gigitan anjing.

"Jelas kami ingin melihat segala kemungkinan. Kami belum mengidentifiasi ini sebagai sarana penularan," kata direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Spanyol Dr. Thomas Frieden, seperti dilansir The Associated Press.

Perawat dan suaminya kini telah berada diruang isolasi sejak dinyatakan positif ebola awal pekan ini. Perawat merupakan bagian dari tim di sebuah rumah sakit Madrid, ia sebelumnya merawat seorang pendeta yang meninggal akibat ebola.

Pemerintah daerah Madrid mendapat peringatan pengadilan, untuk menyuntik mati anjing peliharaan perawat tersebut. Pengadilan mengatakan, informasi ilmiah yang ada tak mengesampingkan bahwa hewan dapat menyebarkan virus.

Sementara pemilik anjing menyatakan tak mau peliharaannya dibunuh. Seorang dokter hewan di Spanyol Carloz Rodriguez mengatakan, suami perawat mengirim pesan padanya dari rumah sakit, mencoba memberi hak asuh sementara untuk anjingnya.

Tapi sekarang menurut Rodriguez, ada perintah pengadilan yang tak bisa ia bantah. "Suami perawat menangis, tapi ia meminta kepastian agar hewan tak menderita," ujarnya.

Kelompok hak-hak hewan, Kesetaraan Hewan, mengeluhkan pihak berwenang atas keputusan ini. Menurutnya pengadilan mengorbankan hewan tanpa mendiagnosisinya terlebih dahulu, atau mempertimbangkan kemungkinan karantina.

Tak jelas seberapa efektif karantina, karena anjing yang terinfeksi tak menunjukkan gejala. Tak diketahui berapa lama virus dapat bertahan di tubuh atau berapa lama tes harus dilakukan untuk memeriksa anjing tersebut.

Seorang dokter hewan di Universitas North Carolina Dr. Peter Cowen menyarankan ahli kesehatan global untuk meneliti risiko penularan ebola pada hewan. Menurutnya membunuh anjing, justru merupakan reaksi berlebih.

"Saya pikir sangat disayangkan mereka berpikir untuk mengeuthanasia anjing. Mereka benar-benar harus mempelajari itu sebagai gantinya. Ebola belum pernah terbukti disebarkan oleh anjing," katanya.

Kemungkinan penyebaran ebola melalui anjing di Afrika dilaporkan pada 2005. Kala itu peneliti menguji anjing selama 2001-2002 saat wabah ebola melanda Gabon. Anjing yang diteliti sebelumnya memakan hewan mati yang terinfeksi.

Dari 337 anjing di berbagai kota dan desa, 9 sampai 25 persen menunjukkan antibodi terhadap ebola. Itu merupakan tanda bahwa mereka pernah terinfeksi atau tepapar virus.

Juru bicara Asosiasi Kedokteran Hewan Sharon Curtis Granskog mengatakan, ada kemungkinan penyebaran ebola melalui anjing. "Tapi tak mungkin terjadi di Amerika Serikat atau tempat lain di mana anjing tak berdekatan dengan mayat atau memakan hewan terinfeksi," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA