Jumat 07 Nov 2014 11:44 WIB

AS Pertimbangkan Pemberian Sanksi ke Libya

Rep: Gita Amanda/ Red: Winda Destiana Putri
Konflik antar-kelompok bersenjata marak terjadi di Libya. (ilustrasi)
Foto: Reuters
Konflik antar-kelompok bersenjata marak terjadi di Libya. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pemberian sanksi pada faksi agresif Libya untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang saudara besar-besaran. AS juga memaksa para pemimpin militan untuk bernegosiasi.

Dilansir dari Reuters, Jumat (7/11) tiga tahun setelah jatuhnya Muammar Gaddafi intervensi dari luar telah memperburuk konflik di Libya. Di mana Qatar dan Turki mendukung pasukan Islam, sementara  Mesir dan Uni Emirat Arab mendukung saingan yang lebih sekuler.

Sanksi AS akan terpisah dari potensi sanksi PBB yang bertujuan untuk menekan faksi Libya dan milisi untuk mengambil bagian dalam negosiasi politik, yang didukung PBB yang dipimpin oleh Utusannya Bernardino Leon. Kemungkinan sanksi PBB diterapkan untuk membantu mendorong digelarnya  pembicaraan politik.

Para pejabat AS menolak mengatakan siapa yang mungkin akan jadi target sanksi mereka, atau mengapa mereka merasa perlu untuk menerapkan sanksi terpisah dari PBB. Mereka juga tak merinci sanksi apa yang akan mereka usulkan.

Sementara sanksi PBB rencananya akan lebih menargetkan individu atau kelompok yang terlibat dalam pertempuran, daripada pendukung asing mereka. Sanksi PBB juga akan membekukan aset serta memberlakukan larangan perjalanan.

Libya telah jatuh dalam kekacauan dengan dua pemerintah yang bersaing. Di mana kedua parlemen bersaing untuk menguasai dan mengontrol kekayaan minyak mereka.

Bagian barat negara itu dikendalikan oleh militan Islam yang menyebut diri mereka Operasi Fajar dan merebut ibukota Tripoli pada bulan Agustus.

Sedangkan pemerintah yang diakui secara internasional, bertanggung jawab atas keadaan di timur, yang parlemennya beroperasi di sebuah hotel di Tobruk.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement