Rabu 10 Dec 2014 14:53 WIB

Abu Zubaydah, Tokoh Kunci dalam Laporan Senat AS

Rep: Ani Nursalikah/ Red: Julkifli Marbun
CIA
Foto: Reuters
CIA

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Abu Zubaydah adalah kelinci percobaan CIA. Dia merupakan terduga pelaku teror, seorang tokoh penting Alqaidah yang ditangkap bdan intelijen Amerika Serikat setelah serangan 11 September 2001.

Dia juga orang pertama yang menghilang ke dalam penjara rahasia dinas mata-mata itu, yang pertama dibombardir oleh pekaknya suara dan merasakan taktik kurangnya tidur. Dia juga tahu bagaimana rasanya ditenggelamkan.

Menurut Komite Intelijen Senat, perlakuan terhadap Zubaydah itu menjadi cetak biru atas perlakuan brutal CIA terhadap tersangka teror. Laporan senat AS itu baru saja dirilis Selasa (9/12).

Laporan itu menyebutkan Zubaydah ditahan di Pakistan pada Maret 2002 sebagai titik balik pendekatan tanpa ampun pemerintaan Bush terhadap terduga pelaku teror. Amerika Serikat memperlakukan terduga pelaku teror dengan puluhan taktik interogasi brutal.

Program interogasi macam itu mengubah penjara rahasia CIA menjadi ruang penyiksaan. Penyelidik senat menyimpulkan berbagai praktik penyiksaan itu tidak membuat Amerika menjadi lebih aman pasca serangan menara kembar.

Laporan komite itu menuduh CIA memberi pernyataan menyesatkan mengenai apa yang mereka lakukan terhadap terduga pelaku teror dan efektivitas teknik yang mereka gunakan. Laporan itu merupakan laporan publik pertama mengenai "kekejaman" CIA terhadap terduga pelaku teror dan isinya tindakan keji melebihi apa yang diketahui publik.

Di antara taktik ang mereka gunakan termasuk pengurungan dalam ruangan kecil, tidak diizinkan tidur selama berhari-hari, simulasi penenggelaman, penamparan dan pemukulan, ancaman pembunuhan dan kekerasan atau pelecehan seksual terhadap keluarga tahanan.

Dalam laporan juga disebutkan penggunaan es dalam air mandi, ancaman pembunuhan, tahanan dibelenggu dalam dingin dan banyak lagi. Banyak tahanan yang mengalami gangguan psikologi.

Kasus Abu Zubaydah menawarkan sudut pandang personal dari mereka yang mengalaminya.

Ketika CIA menyiksa Zubaydah, pejabat hukum yang bekerja untuk Presiden George W Bush menulis memo yang menyebut Zubaydah adalah contoh kasus kunci untuk membenarkan langkah ekstrem CIA.

Zubaydah mengalami praktik penenggelaman sebanyak 83 kali pada Agustus 2002. Laporan senat terbaru mengatakan penyelidik CIA telah merencanakan cara membuang jasad Zubaydah jika ia meninggal dalam proses interogasi. Jasadnya akan dikremasi.

Dampak fisik penyiksaan itu jelas terlihat. Berdasarkan surat elektronik CIA dalam laporan itu,di bawah kain basah yang menjepit wajahnya, Zubaydah menjadi tidak responsif dengan gelembung udara keluar dari mulutnya.

Penyelidik memukuli tubuhnya. Kepalanya ditutupi lantas dia dimasukkan dalam peti. Dia dikunci dalam sel sempit, meratap dan histeris.

Penyiksaan Zubaydah menjadi "pedoman" bagi interogasi CIA untuk terduga pelaku teror. Penyiksaan itu memberi interogator bertumpuk-tumpuk data. Dokter CIA menjadi tahu sejauh mana batas daya tahan manusia dan bagaimana pejabat pemerintahan Bush berurusan dengan hukum dalam menangani tersangka teroris selanjutnya.

Atas permintaan CIA, kata laporan itu, ejabat Departemen Kehakiman pemerintahan Bush menyetujui penggunaan taktik penenggelaman dan taktik pemaksaan lainnya untuk merendahkan Zubaydah dan mengontrol setiap aspek hidupnya.

AS dan Pakistan menangkap Zubaydah di kota Faisalabad dan melukainya dalam pertempuran Maret 2002. Dia kemudian dibawa ke penjara di negara yang tidak diketahui yang disebut dengan istilah "Tempat Penahanan Hijau". Berdasarkan dokumen hukum, tulisan di media dan penyelidikan internasional penjara itu berada di Thailand.

Selama memulihkan diri, Zubaydah dimintai keterangan oleh penyelidik FBI dan CIA. Namun, penyelidik CIA kemudian mundur setelah memprotes tindakan brutal CIA.

Saat pertama kali menjalanni sesi peneggelaman pada awal Agustus 2002,  interogator CIA menutup kepalanya, membelenggunya dan mendorongnya ke dinding. Mereka berulang kali bertanya mengenai ancaman terhadap AS. Namun, Zubaydah bersikeras dia tidak memiliki informasi itu.

CIA kemudian mengikatnya di sebuah papan, menutup wajahnya dengan kain dan menuang air ke atasnya. Zubaydah tersedak, muntah dan pingsan. Dia mendapat perawatan media karena menelan banyak cairan.

"Maka dimulailah," tulis seorang petugas CIA melalui telegram dari penjara.

Zubaydah ditenggelamkan dua kali dalam sehari selama beberapa pekan. Bahkan, sejumlah veteran CIA di penjara Thailand ngeri dengan apa yang mereka saksikan.

Taktik penyiksaan itu berlanjut satu bulan hingga CIA menyimpulkan tahanan telah kooperatif. Pada pidato 2006 yang mengonfirmasi penahanan dan program interogasi itu, Bush mengatakan tahanan adlah seorang pemimpin teroris senior dan orang kepercayaan Osama bin Laden.

Pejabat senior CIA Jose Rodriguez yang mebgawasi proses interogasi Zubaydah dari markas CIA di Virginia mengatakan dalam tayangan "60 Minutes" di televisi CBS, Zubaydah mulai patuh dalam tiga pekan dan memberi CIA petunjuk yang membuat mereka berhasil menangkap pemimpin senior Alqaidah.

Laporan senat menyebutkan Zubaydah hanyalah ikan kecil dalam hirarki Alqaidah dan tidak memberi informasi penting mengenai plot atau struktur teror yang sebenarnya. Penyelidik senat mengutip laporan internal CIA pada 2006 yang mengakui mereka salah memilih Zubaydah pilih sebagai pemimpin teror senior.

Sementara CIA mengatakan kepada Dewan Keamanan Nasional Bush bahwa taktik mereka efektif dan menghasilkan hasil yang berarti. Dalam dokumen CIA lain, disebutkan Zubaydah tidak pernah memberikan informasi seperti serangan teroris berikutnya atau identitas operasi di AS.

Lebih dari 12 tahun setelah ditangkap, Zubaydah masih berada di kamp penahanan di Guantanamo Bay Kuba. Dia belum dikenakan tuduhan kriminal apapun oleh pengadilan militer.

Pada surat elektronik 2002 kepada markas CIA, penyelidik CIA mengatakan mereka ingin kepastian Zubaydah tidak akan pernah diizinkan menjelaskan apa yang mereka lakukan kepadanya. Mereka ingin Zubaydah tidak berkomunikasi dengan siapapun selama sisa hidupnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement