REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW-- Serangan-serangan, yang ditujukan untuk pos-pos pemeriksaan keamanan di pintu masuk kota Haditha, Irak, menewaskan sedikitnya tiga warga sipil dan sembilan polisi serta melukai lebih dari 17 orang, menurut surat kabar.
Para gerilyawan juga menembak jatuh satu helikopter militer Irak pada Sabtu menewaskan dua pilot, kata surat kabar itu. Negara Islam (IS) mengontrol wilayah Anbar yang berbatasan dengan perbatasan Suriah sementara Haditha masih terutama di bawah kendali pemerintah Irak.
Anbar adalah provinsi terbesar Iraq, di mana IS memiliki benteng utama di kota kota Ramadi. Anbar adalah rumah bagi ladang minyak terbesar negara itu, sumber target penerimaan bagi militan. Asap tebal naik menyusul serangan udara oleh koalisi pimpinan AS di Kobani, Suriah, saat pertempuran meningkat antara Kurdi Suriah dan gerilyawan dari kelompok garis keras Negara Islam, seperti yang terlihat dari Mursitpinar, di pinggiran Suruc, di perbatasan Turki-Suriah, Minggu, 12 Oktober.
Pada Jumat, kelompok ini juga mengepung 450 pejuang Sunni dari suku Muslim di Anbar, menurut Kantor Berita Anadolu. Sementara itu, Observatorium Suriah untuk Hak-hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa pada hari yang sama, para pejuang IS memenggal empat orang di kota Suriah Homs karena 'menghina Allah SWT' di depan umum.
Kelompok garis keras IS telah memerangi pemerintah Suriah sejak 2012 dan bertanggung jawab atas kekejaman mengerikan termasuk pemenggalan serta penyaliban di depan publik. Kelompok ini menyatakan 'kekhalifahan' di wilayah yang telah mereka kuasai di Suriah dan Irak.
Pasukan bersenjata Suriah dan Irak serta pejuang suku telah memerangi militan Syiah dibantu oleh koalisi internasional pimpinan AS, yang melakukan serangan udara pada target IS di Suriah dan Irak.