REPUBLIKA.CO.ID,KAIRO-–Negara Irak perlu tiga tahun untuk membangun kembali kekuatan militernya.
"Hal yang paling sulit adalah untuk merestrukturisasi dan membangun tentara saat kita berada dalam keadaan perang,"ujar Perdana Menteri Haider al Abadi dilansir dari Reuters, Senin (12/1).
Ia mengatakan, saat ini tujuan mereka adalah menciptakan keseimbangan antara restrukturisasi tentara tanpa mempengaruhi kekuataan saat berperang.
Sejak jatuhnya sang pemimpin diktator, Saddam Husein medio tahun 2003 lalu, lalu disusul kemunculan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), geopolitik di Timur Tengah, diakui Abadi mengubah juga posisi pemerintahannya.
Bahkan tindak korupsi meluas di Irak. Sektor militer pun tak luput dari perbuatan tersebut. Sehingga dana miliaran dolar dukungan dari Amerika Serikat gagal menyetabilkan Irak.
Abadi mengakui, tentara yang ada di Irak harus lebih ditingkatkan kualitasnya untuk menghadapi ISIS. Hingga saat ini ISIS dipandang jauh lebih berbahaya daripada Alkaidah.