REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Peretasan pada akun Twitter milik Pentagon disebut-sebut sebagai ulah warga Inggris, Rabu (14/1). Seorang sumber dari pemerintah dan ahli keamanan pribadi mengatakan peretas juga pernah dipenjara karena meretas alamat pribadi mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.
Tersangka yaitu Junaid Hussain yang berusia 20 tahun. Ia diduga kuat sebagai pelaku peretasan akun Twitter Pentagon pada Senin lalu. Meski demikian, belum jelas apa dia juga yang meretas akun Twitter dan Youtube Pusat Komando AS yang melakukan operasi militer di Timur Tengah.
Pada 2012 lalu, Hussain dipenjara selama enam bulan karena mencuri alamat Blair dari akun email. Ia mengirimkan pesan-pesan hoax terkait terorisme.
Hussain tinggal di Birmingham Inggris. Ia pindah ke Suriah dalam dua tahun terakhir. Penyidik AS dan Eropa mengatakan peretasan akun Twitter dan YouTube Pusat Komando AS diluncurkan dari Suriah.
Juru bicara Pentagon, Kolonel Steve Warren mengatakan serangan peretas sangat mengganggu meski tak ada informasi penting yang bocor. Investigator percaya bahwa peretas menggunakan nama Abu Hussain Al Britani.
Ia juga melakukan peretasan pada Albuquerque di New Mexico dan WBOC yang merupakan sebuah stasiun televisi. Akun Abu Hussain Al Britani telah menghilang sejak Selasa.
Hal ini belum bisa dikonfirmasi karena sumber tidak bersedia menyebut identitas. Menurut seorang analis di Flashpoint Global Partners, Alex Kassirer, istri Hussain mengatakan dalam akun Twitternya minggu lalu bahwa suaminya telah tewas dalam serangan pesawat tanpa awak.
Namun, pihak berwenang AS dan Eropa mengatakan tak ada informasi yang menyebut Hussain telah meninggal.