Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Friday, 25 Rabiul Awwal 1441 / 22 November 2019

Kapten Air Asia Tinggalkan Tempat Duduknya Sebelum Pesawat Hilang Kontrol

Senin 02 Feb 2015 03:09 WIB

Rep: c10/ Red: Agung Sasongko

Bagian badan pesawat Air Asia

Bagian badan pesawat Air Asia

Foto: Youtube

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Berdasarkan keterangan penyelidikan, kapten pesawat jet Air Asia yang jatuh ke laut pada Desember lalu keluar dari tempat duduknya dan melakukan prosedur yang tak lazim. Kemudian, co-pilot tampak kehilangan kendali. Saat sang kapten kembali ke tempat duduknya, namun ia telah terlambat untuk menyelamatkan pesawat.

Keterangan ini muncul saat detik-detik penyidikan QZ 8501 cenderung difokuskan pada pemeliharaan, prosedur, dan latihan. Meskipun penyelidik Indonesia secara terbuka menyampaikan setiap temuan, namun terlalu dini untuk menarik kesimpulan.

Pesawat Airbus A320 ini jatuh ke laut Jawa dalam perjalanan dari Surabaya, Indonesia ke Singapura pada 28 Desember 2014 dan menewaskan 162 penumpang di dalamnya. Salah seorang ahli penerbangan mengatakan, pesawat telah mengalami kesalahan perawatan kontrol penerbangan utama selama sepekan terakhir.

Menurutnya, beberapa hari sebelum kecelakaan terjadi, kapten terbang pada pesawat yang sama dengan perangkat yang rusak. Sermentara, Air Asia mengatakan, tidak akan berkomentar ketika masalah tersebut  sedang diselidiki oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dari Indonesia.

Berdasarkan laporan Reuters pekan ini, masalah pemeliharaan pada Flight Augmentation Komputer (FAC) dan cara pilot bereaksi menjadi fokus penyelidikan. Sementara, menurut laporan Bloomberg News, setelah pilot mencoba me-reset perangkat tersebut,  pilot menarik sirkuit-breaker untuk memotong daya.

Orang yang ahli dengan masalah tersebut mengatakan kepada Reuters, kapten Iriyanto asal Indonesia yang mengambil langkah tersebut bukan disebabkan kurang berpengalamannya co-pilot Remy Plesel asal Prancis, yang menerbangkan pesawat.

Pemutusan sistem FAC tidak akan langsung mengganggu pesawat, tapi hanya akan menghilangkan perlindungan terluar peswat, yang dapat mencegah seorang pilot membawa pesawat melampaui batas keamanan. Meninggalkan pilot junior untuk menerbangkan jet secara manual pada kondisi ketinggian yang sulit.

Biasanya prosedur umum untuk me-reset yakni dengan menekan tombol pada panel overhead. Jadi keputusan pilot untuk memutus sistem FAC telah mengejutkan orang-orang dalam penyelidikan.  "Anda dapat mengatur ulang FAC, tapi  memotong semua daya itu sangat luar biasa," kata seorang pilot A320, yang menolak disebutkan namanya, dilansir dari themalaysianinsider, Senin (2/2)

Menurutnya, pilot tidak seharusnya menarik sirkuit-breaker kecuali dalam keadaan yang sangat darurat. Ia tidak tahu apakah ada alasan lain selain itu. Hal tersebut juga penting karena untuk menarik sirkuit-breaker kapten harus bangkit dari tempat duduknya.

Menurut dua orang pilot yang berpengalaman, sirkuit-breaker berada di panel dinding di belakang co-pilot dan sulit untuk menjangkaunya dari posisi duduk di mana kapten duduk. Tak lama setelah itu, co-pilot membawa pesawat naik tajam. Kemudian peswat kehilangan daya angkat.

"Tampaknya ia terkejut dengan hal ini," kata seseorang yang ahli dengan penyelidikan, mengacu pada keputusan untuk memotong daya yang berdampak kepada komputer.

Kemudian kapten kembali ke tempat duduknya, tetapi orang yang ahli dengan masalah ini mengatakan, kapten tidak dalam posisi untuk segera memulihkan pesawat menjadi kembali stabil. Data yang sudah dipublikasikan di lintasan pesawat itu menunjukkan mungkin sulit bagi seseorang untuk bergerak di sekitar kokpit saat pesawat tidak stabil, tapi sejauh ini tidak ada konfirmasi dari gerakan kokpit.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA