Kamis 05 Mar 2015 16:42 WIB

Libya Hentikan Operasi 11 Ladang Minyak

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Ani Nursalikah
Salah satu ladang minyak  di Zawia, sekitar 55km barat Kota Tripoli.
Foto: Reuters
Salah satu ladang minyak di Zawia, sekitar 55km barat Kota Tripoli.

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI -- Libya telah menghentikan operasi 11 ladang minyak karena situasi keamanan yang memburuk setelah instalasi minyak dan pelabuhan menjadi target serangan.

Ladang minyak ini dikelola oleh Korporasi Minyak Nasional dan ditutup sejak Rabu (3/3). Pejabat keamanan setempat mengatakan aset minyak milik Libya ditutup termasuk ladang minyak di Mabrouk dan Bahi.

Kedua ladang tersebut telah dikuasai oleh kelompok militan ISIS setelah pasukan keamanan mundur karena diserang. Seluruh staf di kedua ladang tersebut telah dievakuasi sebelum ditutup.

Selama ini Mabrouk telah menghasilkan minyak sekitar 40 ribu barel per hari.Ladang ini diserang bulan lalu dan mengakibatkan sedikitnya 12 orang tewas. Libya masih terjebak dalam konflik dua pemerintahan. Beberapa ladang dan pelabuhan minyak terkena serangan dan diambil alih militan ISIS yang mengambil keuntungan dalam kekecauan yang terjadi.

Pelabuhan minyak Es Sidra dan Ras Lanuf bertanggung jawab untuk memproduksi setengah minyak Libya. Namun keduanya ditutup sejak Desember 2014 karena pertempuran.

Libya juga telah meminta izin dari PBB untuk mengimpor 150 tank, dua lusin jet tempur, tujuh helikopter, puluhan ribu senapan, granat dan jutaan butir amunisi dari Ukraina, Serbia, dan Republik Ceko. Libya meminta izin Dewan Keamanan PBB karena adanya embargo senjata yang diberlakukan di negara di Afrika Utara.

Pemerintah Libya membutuhkan pengiriman senjata dan peralatan militer besar-besaran untuk mengontrol perbatasannya dari pengambilalihan ISIS dan ekstremis lain. Jika tidak ada keberatan dari 15 anggota komite permintaan ini akan disetujui.

Utusan khusus PBB Bernardino Leon memperingatkan DK PBB ISIS tidak berhenti untuk memperkuat kehadirannya. Masyarakat Internasional harus bergerak cepat untuk membuat strategi agar pemerintah Libya segera bersatu.

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement