Kamis 12 Mar 2015 17:18 WIB

Penggunaan Surel Pribadi Hillary Clinton Berbuntut Panjang

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Bilal Ramadhan
Hillary Clinton
Foto: Reuters
Hillary Clinton

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON-- Kontroversi penggunaan surel pribadi milik Hillary Clinton ketika menjabat Menteri Luar Negeri menjadi kerikil dalam jalannya menuju Gedung Putih. Pada Rabu (12/3), Partai Republik ingin mengangkat isu tersebut dalam jajak pendapat kongres.

Ketua parlemen Trey Gowdy mengatakan ia ingin Clinton membuat pernyataan di Kongres pada April tentang penggunaan alamat surel pribadinya saat 2009-2013. Para Selasa, Clinton telah mengatakan 'kebiasaan'nya itu membuatnya lebih nyaman.

Sehingga ia tak perlu membawa dua perangkat mobile. Ia juga telah meminta maaf atas 'kesalahan' masa lalunya itu. Tapi usaha Clinton meredam kontroversi di hadapan pers membuat lawan dan media semakin memberondongnya.

Mereka mempertanyakan lebih lanjut untuk apa saja Clinton menggunakan surel pribadinya. Gowdy juga menyelidiki peranan Clinton dalam serangan fasilitas diplomatik AS di Benghazi, Libya melalui surelnya.

Ia mengatakan akan menyelesaikannya pada April. Ini berbenturan dengan isu bahwa Clinton akan mengumumkan pencalonan dirinya sebagai kandidat presiden pada 2016. Namun beberapa penasihatnya mengatakan pengumuman tidak akan dilakukan sebelum musim panas. Clinton adalah kandidat kuat dari Partai Demokrat.

Partai Republik menyamakan kebiasaan surel Clinton dengan Presiden Bill Clinton ketika menjabat Presiden. Republik prihatin pada sekitar 55 ribu halaman surel tentang pekerjaan yang ada di alamat surel pribadi Clinton.

Clinton telah menyerahkannya pada pemerintah seusai jabatannya berakhir. Sementara sisa sekitar 30 ribu surel, Clinton mengatakan adalah bersifat pribadi seperti komunikasi dengan suaminya. Ia memilih menyimpannya di server pribadi.

Seorang juru bicara komite John Boehner tidak menutup kemungkinan DPR akan meminta Clinton menyerahkan server tersebut. Pasalnya, ada beberapa surel yang hilang tertanggal mendekati insiden di Libya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement