REPUBLIKA.CO.ID, TIKRIT -- Pihak berwenang Irak tengah melakukan penggalian dan pengeluaran mayat dari lokasi kuburan massal, yang ditemukan di Tikrit. Diduga ada sekitar 1.700 mayat tentara Irak di dalam makam tersebut.
Seperti dilaporkan CNN Selasa (7/4), Direktur Kamar Mayat Irak Ali Tahir mengatakan semua mayat yang ditemukan telah membusuk. Beberapa mayat bahkan tewas dalam keadaan tangan terikat. Semua mayat menurut Tahir akan dibawa ke Baghdad untuk diidentifikasi.
Sejumlah orang yang membantu proses penggalian tampak berduka. Saat tiga mayat pertama ditemukan, sekitar 10 tentara Irak memberi penghormatan dengan mengeluarkan tujuh kali tembakan ke udara. Lagu kebangsaan juga dimainkan sementara sejumlah tentara menangis.
Sekitar delapan kuburan massal di dalam kompleks istana presiden digali. Istana tersebut dulunya pernah menjadi kediaman mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Dua kuburan lain berada di luar kota Tikrit.
Kuburan massal berada dekat dengan bekas pangkalan Angkatan Darat Amerika Serikat, Kamp Speicher. Saat kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) menyerang Irak utara pada Juni, beberapa unit militer dikirim ke Kamp Speicher.
Tak lama setelah menguasai Tikrit, ISIS kala itu memposting sebuah video yang menggambarkan eksekusi ribuan tentara. Menurut laporan sebagian besar tentara yang berada di sana saat itu merupakan Syiah. Korban selamat mengatakan, ISIS menanyakan identitas mereka sebelum membunuhnya.
Salah satu anggota tim penggali Khalid al-Atbi mengatakan penggalian kuburan massal dimulai pada Ahad (5/4). Sejauh ini menurutnya mereka sudah menemukan sedikitnya 20 mayat. Indikasi awal menunjukkan mereka korban Kamp Speicher.
"Itu adalah adegan memilukan. Kami tak bisa mencegah diri untuk tak menangis. Aksi barbar macam apa yang membunuh 1.700 orang dengan tangan dingin?" katanya.
Bekas komplek istana presiden di Tikrit memang telah menjadi markas ISIS selama pendudukan mereka di kota tersebut. Salah seorang tentara selamat mengisahkan, saat ditangkap ISIS, para tentara tersebut dipisah menjadi kelompok kecil sebelum dieksekusi dan dimakamkan.
Human Rights Watch menggambarkan Pembantaian Speicher sebagai laporan insiden terbesar. Saat itu menurut mereka, ISIS menangkap lebih dari 1.000 tentara yang melarikan diri dari Kamp Speicher. ISIS kemudian mengeksekusi 800 di antaranya.
Berdasarkan citra satelit dan keterangan saksi, Human Right Watch mengklaim sudah melihat sejumlah situs kuburan massal di Tikrit dan kompleks istana presiden.
Pihak keluarga juga telah memberikan sampel DNA mereka ke Kementerian Kesehatan tahun lalu. Hal itu dilakukan agar pemerintah dapat mencocokan DNA dengan mayat yang ditemukan.