Jumat 17 Apr 2015 09:45 WIB

Putin: Rusia Ingin Pulihkan Hubungan dengan Ukraina

Russian President Vladimir Putin gestures as he addresses journalists in Moscow, December 6, 2014.
Foto: Reuters/Vasily Maximov/Pool
Russian President Vladimir Putin gestures as he addresses journalists in Moscow, December 6, 2014.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW-- Pemulihan hubungan dengan Kiev adalah keinginan Rusia, kata Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (16/4).

"Kami akan berusaha memulihkan hubungan kami dengan Ukraina. Ini adalah keinginan kami," kata Putin di dalam siaran langsung dari satu studio televisi Moskow, sebagaimana dikutip Xinhua, Jumat (17/4).

Ia mendesak Kiev agar meraih kesempatan baik dan sepenuhnya menerapkan kesepakatan Minsk. Presiden Rusia tersebut menyatakan Kiev tampaknya tak bersedia memanfaatkan kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Februari dan telah kehilangan kesempatannya beberapa kali untuk memulihkan kedamaian.

"Saya kira (tindakan agresif Kiev) adalah kekeliruan yang sangat besar, dan tindakan semacam itu membuat situasi jadi buntu," kata Putin.

Ia mengatakan Rusia juga tertarik pada pemulihan ekonomi di Ukraina. Ukraina tahun lalu terperosok ke dalam resesi ekonomi terburuknya dalam beberapa dasawarsa, dan akan memerlukan dana sebesar 40 miliar dolar AS selama empat tahun ke depan, demikian perkiraan Dana Moneter Internasional (IMF).

Putin mengatakan Rusia memahami kesulitan ekonomi Ukraina, sehingga Rusia memutuskan untuk menambah potongan harga gas kepada Kiev. Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menandatangani dekrit pada 1 April untuk memperpanjang potongan harga gas tak lebih dari 100 dolar AS per 1.000 meter kubik gas Rusia selama tiga bulan sampai 30 Juni.

Putin juga menyeru Pemerintah Kiev agar memperlakukan Rusia sebagai mitra yang sebanding. Ia mengatakan secara langsung dan pasti bahwa tak ada tentara Rusia di Ukraina, dan menambahkan perang antara Rusia dan Ukraina tak mungkin terjadi.

Selama hampir empat jam dalam acara tahunan tersebut, Putin menjawab lebih dari 70 pertanyaan dari seluruh negeri itu mengenai berbagai masalah, mulai dari masalah dalam negeri Rusia sampai hubungan luar negeri dengan Barat dan krisis Ukraina.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement