Selasa 05 May 2015 16:06 WIB

PBB Perintahkan Arab Saudi Hentikan Serangan ke Yaman

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Winda Destiana Putri
Pasukan militer Arab Saudi berjaga di garis perbatasan dengan Yaman, di Kota Najran.
Foto: AP/Hasan Jamali
Pasukan militer Arab Saudi berjaga di garis perbatasan dengan Yaman, di Kota Najran.

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- PBB mengatakan koalisi Arab Saudi harus menghentikan serangannya ke Yaman.

Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman Johannes Van Der Klaauw mengatakan Koalisi Arab Saudi telah menargetkan bandara di Sanaa Selama sepekan terakhir.

"Ini berdampak bandara tidak dapat beroperasi, tak ada satupun penerbangan yang dapat lepas landas," ujar Johannes dikutip dari Reuters, Selasa (5/5).

Setelah serangan udara Arab Saudi, bandara mulai diperbaiki. "Saya sangat mendorong koalisi untuk menghentikan serangan dari bandara Sanaa dan semua bandara serta pelabuhan laut," ujar dia.

Ini dikarenakan PBB sedang meyiapkan rencana untuk mendirikan sebuah jembatan. Jembatan udara ini digunakan untuk menyeberangkan pekerja kemanusiaan dari Djibouti untuk membantu Yaman.

Menteri Luar Negeri John Kerry mengunjungi Riyadh untuk berdiskusi dengan pemerintah Arab Saudi Rabu dan Kamis 6-7 Mei. AS mendorong agar secepatnya dilakukan jeda kemanusiaan di pertempuran di Yaman.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al Jubeir mengatakan Koalisi Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk gencatan senjata di wilayah tertentu di Yaman. Sehingga bantan kemanusiaan memungkinkan untuk masuk ke Yaman.

Arab Saudi berusaha untuk memulihkan pemerintahan Hadi. Mereka juga berusaha memisahkan tentara Saleh dan kelompok Houthi.

Saat ini kelompok Houthi telah menguasai sebagian besar Yaman. Saat ini Arab Saudi dengan sembilan negara Arab telah mendapat dukungan logistik perang dari AS, Prancis, dan Inggris.

Mereka berusaha untuk mengembalikan kembali pemerintahan Presiden Abd Rabbu Mansour Hadi. Hadi pun saat ini masih berada di Riyadh untuk menyelamatkan diri.

Dua lembaga bantuan, Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan Medecins Sans Frontieres mengatakan keprihatinannya terkait rusaknya bandara di Sanaa dan pelabuhan Hudaydah. Jalur menuju ke Yaman pun hampir terputus.

Kepala tim 250 Staf ICRC di Yaman Cedric Schweizer mengatakan penderitaan masyarakat Yaman sangat besar. "Pembatasan impor oleh Arab Saudi dan kekurangan bahan bakar membuat kehidupan sehari-hari masyarakat Yaman menyedihkan,"ujar dia.

Program Pangan Dunia (WFP) PBB berencana untuk mendirikan sebuah layanan udara untuk membwa pekerja kemanusiaan selama tiga bulan kedepan. Mereka juga berencana memberikan pasokan bantuan ke Yaman hingga akhir tahun 2015.

WFP juga memberikan bantuan layanan telekomunikasi darurat sehingga koordinasi bantuan kemanusiaan dapat dilakukan. Mereka juga menyewa kapal untuk mengangkut logistik antara Djibouti dan Hudaydah.

Sementara itu Menteri Luar Negeri Yaman Reyad Yassin Abdulla mengatakan pasukan khusus yang melawan Houthi bukanlah pasukan asing. Mereka adalah tentara Yaman yang baru pulang pelatihan di negara Teluk.

Seragam dan peralatan canggih yang dimiliki tentara tersebut dicurigai sebagai pasukan darat yang dikirim Arab Saudi. "Ini kelompok pasukan Yaman. Kami melatih dan mengirim mereka. Kami juga berencana untuk mengirim mereka lebih banyak untuk pelatihan," ujar Abdulla.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement