Ahad 09 Aug 2015 06:33 WIB

Pria Palestina Korban Pembakaran Pekan Lalu Meninggal

Pendemo mengibarkan bendera Palestina.
Foto: Reuters
Pendemo mengibarkan bendera Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Seorang pria Palestina, yang menderita luka serius dalam serangan pembakaran mematikan pekan lalu di Tepi Barat Sungai Yordan oleh ekstremis Yahudi, meninggal akibat luka-lukanya pada Sabtu (8/8) pagi waktu setempat.

Saad Dawabsheh menderita luka bakar 80 persen di tubuhnya dan berjuang melawan maut selama lebih dari satu pekan di satu rumah sakit di Beer Sheva, Israel Selatan. Namun akhirnya ia menyerah pada luka-lukanya, kata media setempat.

Kematian Dawabsheh membuat korban jiwa akibat serangan pembakaran itu jadi dua, kata Xinhua, yang dipantau Antara di Jakarta, Sabtu (8/8) malam. Putranya, yang berusia 18 bulan, meninggal pada 31 Juli, ketika tersangka pemukim ekstremis Yahudi melemparkan bom bensin ke dalam rumahnya di Desa Palestina, Duma.

Istri Dawabsheh dan anak lelakinya yang berusia empat tahun, yang masih menderita luka serius akibat serangan tersebut, masih berjuang melawan maut di rumah sakit Israel. Serangan pembakaran itu, yang dicap sebagai aksi teror Yahudi oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pejabat senior lain Israel, masih diselidiki oleh dinas intelijen Israel.

Peristiwa tersebut telah memicu protes dari seluruh masyarakat Palestina di Tepi Barat, sementara dua pemuda Palestina tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan Israel dalam satu pekan belakangan.

Pada Sabtu malam pekan lalu (1/8), ribuan orang Israel ikut dalam pertemuan terbuka di Tel Aviv untuk memprotes ekstremisme, kekerasan dan hasutan setelah terbunuhnya seorang bayi Palestina dalam pembakaran oleh tersangka ekstremis Yahudi.

"Mengapa Ali dibunuh? Ia baru berumur 18 bulan. Apa yang dilakukannya terhadap para pemukim, kepada tentara?" demikian pertanyaan Nasser Dawabsheh dalam pertemuan terbuka di Tel Aviv. Nasser adalah paman Ali Dawabsheh, bayi Palestina yang meninggal dalam serangan pembakaran di Tepi Barat.

"Mereka membakar satu keluarga yang damai yang tidak mendukung kekerasan," kata Nasser, dengan air mata berlinang di pipinya.

Saat melontarkan pertanyaan itu kepada pemerintah Israel, Nasser Dawabshes mengatakan ia berharap penderitaan rakyat Palestina akan segera berakhir. "Sebelum Ali, ada Mohamad Abu Khdeir, sekarang Ali, siapa selanjutnya?" demikian pertanyaan yang dilontarkan oleh paman Ali tersebut.

Dia merujuk kepada peristiwa satu tahun lalu, saat beberapa pemukim Yahudi membakar hingga tewas seorang remaja lelaki Palestina yang berusia 15 tahun dari Yerusalem Timur. Beberapa hari sebelumnya, mayat tiga remaja Israel yang "diculik dan dibunuh oleh gerilyawan Palestina" ditemukan di Tepi Barat.

Pertemuan terbuka di Tel Aviv tersebut, yang diselenggarakan oleh organisasi Peace Now dengan tema "Hentikan hasutan, akhiri kebencian", adalah bagian dari protes yang berlangsung di seluruh negara Yahudi itu pada Sabtu. Protes dilancarkan di Haifa, Jerusalem dan Be'er Sheva.

Peristiwa tersebut berlangsung setelah serangan yang diduga berkaitan dengan price tag, saat beberapa pemukim Yahudi membakar satu rumah orang Palestina di Desa Duma di bagian utara Tepi Barat. Aksi brutal itu menewaskan seorang bayi Palestina, Ali Dawabsheh, dan membuat kedua orang tua serta kakak bayi tersebut luka parah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement