Sabtu 10 Oct 2015 01:00 WIB

Kuartet Dialog Nasional Tunisia Terima Nobel Perdamaian

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Ani Nursalikah
Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Umum Tunisia (UGTT) Houcine Abassi (kanan) diberi ucapan selamat oleh rekannya di kantornya di Tunis, Jumat (9/10). Abassi slah satu dari empat anggota Kuartet Dialog Nasional Tunisia yang dianugerahi Nobel Perdamaian 20
Foto: ap
Sekretaris Jenderal Serikat Pekerja Umum Tunisia (UGTT) Houcine Abassi (kanan) diberi ucapan selamat oleh rekannya di kantornya di Tunis, Jumat (9/10). Abassi slah satu dari empat anggota Kuartet Dialog Nasional Tunisia yang dianugerahi Nobel Perdamaian 20

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO -- Penghargaan Nobel Perdamaian 2015 diberikan kepada Kuartet Dialog Nasional Tunisia, Jumat (9/20). Penghargaan ini diberikan atas kontribusinya membangun demokrasi setelah Revolusi Jasmine pada 2011.

Kuartet terdiri dari Serikat Buruh Tunisia (UGTT), Konfederasi Perindustrian, Perdagangan dan Kerajinan Tunisia (UTICA), Liga Hak Asasi Manusia Tunisia (LTDH) dan Orde Pengacara Tunisia.

Dibentuk pada musim panas 2013, kuartet itu membantu mendukung proses demokratisasi di Tunisia yang saat itu terancam runtuh.

"Ini didirikan sebagai alternatif, proses politik yang damai pada saat negara itu di ambang perang saudara," kata kepala Komite Nobel, Kaci Kullman.

Nobel Perdamaian menjadi satu-satuya penghargaan yang diumumkan di Oslo. Dalam kesempatan tersebut Kullman mengatakan, hadiah ini dimaksudkan sebagai dorogan kepada orang-orang Tunisia yang meskipun menghadapi tantangan besar namun meletakkan persaudaraan nasional sebagai dasar. Komite berharap hal ini menjadi contoh yang harus diikuti oleh negara-negara lain di dunia.

Hadiah Nobel Perdamaian ini sebesar delapan juta krown Swedia atau 972 ribu dolar AS.

Sekretaris Jenderal UGTT Houcine Abassi menggambarkan bagaimana UGTT, sebuah kelompok HAM, kelompok perdagangan dan kelompok pengacara bergabung bersama untuk mencoba membawa negaranya keluar dari krisis.

Ia mengatakan anggota kuartet senang dengan penghargaan Nobel tersebut meski tidak mengharapkan akan mendapatkan hadiah.

Seperti diberitakan Guardian edisi Jumat (9/10), penghargaan ini adalah kemenangan besar bagi demokrasi Tunisia yang masih muda dan gemetar setelah menderita dua serangan ekstremis tahun ini. Dua serangan itu setidaknya menewaskan 60 orang dan meghancurkan industri pariwisata.

"Ini (pengumuman Nobel) memberi kita banyak harapan, ini adalah sesuatu yang luar biasa," kata juru bicara Komisi perintis kebenaran dan martabat Tunisia, Anouar Moalla.

Nominasi lain Nobel adalah Kanselir Jerman, Angela Merkel atas janjinya menjaga perbatasan negaranya tetap terbuka bagi ratusan ribu pengungsi. Adapula Paus Francis dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry dan rekan Irannya, Javad Zarif untuk kesepakatan pada program nuklir Iran.

Nominasi lainnya yang cukup kuat adalah Presiden Kolombia Juan Manuel Santos dan pemimpin pemberontak Rodrigo Londono. Mussi Zerai, seorang imam Eritrea yang membantu mengkoordinasi misi penyelamatan bagi imigran melintasi Mediterania dan blogger Arab, Raif Badawi.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement