REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Tentara Israel telah menangkap sekitar 800 warga Palestina sepanjang dua pekan pertama Oktober. Mayoritas dari mereka merupakan anak-anak dan remaja.
Dilansir dari Xinhua, Kamis (15/10), Kepala Urusan Departemen Tahanan di organisasi pembebasan Palestina (PLO), Eassa Qaraqe'a, mengatakan sebagian besar penangkapan terjadi di Tepi Barat.
Eassa menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya jumlah warga Palestina yang ditangkap."Mayoritas dari mereka adalah warga sipil yang tidak berdaya, anak-anak dan remaja," ujarnya.
Pejabat PLO lainnya menuduh Israel menargetkan anak-anak dalam upaya mengeksekusi para pelempar batu dari Palestina. Hukum pemerintah Israel memberikan kewenangan bagi pengadilan untuk menghukum para pelempar batu selama 20 tahun penjara.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina, Osama al-Najjar, mengatakan pelayanannya telah dikontak 28 organisasi kesehatan internasional untuk mempelajari situasi kritis saat ini.
"Kami mengadakan pertemuan dan kontak dengan organisasi-organisasi ini dan kami menuntut posisi yang jelas dan jujur mengenai apa yang dilakukan Israel dan mereka harus mengakhiri kejahatan yang tidak manusiawi ini," kata al-Najjar.
Selama beberapa pekan terakhir, ketegangan antara Israel dan Palestina meningkat. Ketegangan ini menyebabkan 30 warga Palestina dan tujuh warga Israel tewas. Lebih dari 1.000 terluka akibat kondisi ini.