REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Pejabat badan yang menangani anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (Unicef) mencatat lebih dari setengah juta anak di Yaman menghadapi kekurangan gizi yang mengancam jiwa akibat kelaparan yang meningkat.
Data terbaru PBB menyebutkan, selain 537.000 anak berusia di bawah lima tahun berisiko menderita kekurangan gizi akut yang ditandai dengan tubuh mereka, sebanyak 1,3 juta anak mengalami malnutrisi sedang.
"Angka tersebut melonjak tiga kali lipat sejak pertempuran meletus pada Maret 2015, membuat stok pangan menipis yang diperparah oleh sistem kesehatan gagal. Sehingga, tidak mampu merawat anak-anak lapar atau memberi vaksinasi mereka terhadap penyakit,’’ kata direktur program darurat UNICEF di seluruh dunia Afshan Khan seperti dikutip dari laman Alarabiya, Sabtu (17/10).
Ia menambahkan, pihaknya menghadapi potensi bencana besar kemanusiaan, tingkat gizi buruk yang dilaporkan pada anak-anak sangat kritis. Namun, diakuinya diperlukan lebih banyak data dan bukti kuat untuk menyatakan terjadi kelaparan.
"Sebuah survei gizi akan dilakukan pada akhir Oktober. Seberapa dekat kita dengan kelaparan? Kami melihat beberapa wilayah yang lebih buruk daripada yang lain," ujarnya.
Ia menambahkan, UNICEF mengoperasikan 43 tim mobile yang memeriksa anak penderita gizi buruk tetapi daerah-daerah seperti provinsi timur Hadramaut yang dikuasai Alqaidah tidak dapat mereka akses. Arab Saudi telah menyebabkan intervensi militer Arab terhadap militan Houthi sejak 26 Maret 2015 untuk mengembalikan pemerintah Yaman yang diasingkan. Setidaknya 5.400 orang telah tewas dalam konflik tersebut.
Yaman kini menjadi negara termiskin di dunia Arab di mana sekitar 10 persen dari populasi 23 juta terlantar.‘’Korban tewas termasuk setidaknya 502 anak-anak,’’ kata UNICEF.
Yaman yang mengimpor 90 persen makanan sebelum krisis,terpaksa tunduk pada blokade Arab Saudi terhadap kapal komersial yang memeriksa mekanisme dokumen verifikasi PBB.
"Kami diperbolehkan sebagian kecil barang yang memiliki surat yang jelas. Kami tidak mampu mengisi kembali persediaan medis," ujarnya. Akses kemanusiaan diakuinya menjadi lebih sulit.