REPUBLIKA.CO.ID, PODGORICA -- Demonstrasi mendesak Perdana Menteri mengundurkan diri di ibukota Montenegro berakhir ricuh, Sabtu (24/10). Polisi menembakkan gas air mata pada para demonstran yang telah berunjuk rasa sejak dua pekan lalu itu.
Ada sekitar 5.000 pengunjuk rasa yang berbaris di parlemen untuk menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Milo Djukanovic. Menurut Reuters, unjuk rasa dimulai damai tetapi berubah menjadi kekerasan pada Sabtu malam.
Kericuhan dipicu oleh demonstran yang melemparkan api dan perangkat pembakar ke pos penjagaan polisi di depan gedung parlemen di Podgorica. Dalam serangkaian cuitan di Twitter, pemerintah Montenegro mengatakan 15 petugas polisi terluka dalam kekerasan tersebut.
Satu cuitan mengatakan bahwa Presiden partai politik etnis Serbia di Montenegro, New Serbia Demokrasi (NSD), Andrija Mandi telah ditangkap dan ditahan di kantor polisi pusat ibukota. Penangkapan dikonfirmasi oleh Menteri Dalam Negeri Konjevi.
"Para pengunjuk rasa menyerang polisi dengan menggunakan batu dan bom molotov, pada saat yang sama mereka menerobos pagar pelindung, sehingga polisi terpaksa melakukan tindakan," kata dia.
Pihak oposisi menuntut Djukanovic turun dan dilakukan pemilu ulang. Djukanovic telah memimpin selama lebih dari dua dekade. Pejabat tinggi dari partai oposisi Front Demokratik, Milan Knezevic, yang berada di barisan depan protes, mengatakan Montenegro berada pada titik balik bersejarah.